Linkers Academy Batch 2

 

8ef47c00-6a3a-40be-b4c9-a1e30a279b6c-1.jpg

Basic Travel Photography & Writing Workshop Batch II.

Speakers:
· Windy Ariestanty – CEO Iwashere.id & Founder Writingtable
· Marrysa Tunjung – Editor in Chief Linkers

Registration fee: IDR150.000
Limited 30 seats

How to join:
· Tell us why you should be selected as one of our participants (in 1 paragraph)
· Include your instagram account and portofolio
· Send to linkers-academy@citilink.co.id with subject: “Linkers Academy”
· Registration periode 1-22 Feb 2017
· Participants will be selected by Linkers Academy team

[TRAVEL DIARIES] Ritual Sakral Ngarebong, Kesiman

 

Hampir seluruh ritual adat di Indonesia merayakan puji syukur kelahiran, selamatan rumah baru, kematian, penghormatan terhadap alam atau bumi (panen, laut, gunung berapi). Penghormatan terhadap alam bertujuan untuk keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Salah satunya yang saya hadiri di Bali adalah upacara Ngerebongan, Pura Pentilan Kesiman, Denpasar Timur, Kota Denpasar. Tradisi Ngerebongan ini sudah ada sekitar tahun 1937. Bukan hanya dari desa adat Kesiman, tapi ada juga dari Sanur, Pamogan, Sawangan, sekaligus 31 desa di sekitar Kesiman.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ritual Ngerebong ini dilaksanakan setiap 6 bulan sekali, di Pura Dalem Kesiman. Pada Ngerebong ini ada ritual  menusuk keris ke dada. Dalam bahasa Bali disebut “Ngurek” dan berbagai gerakan tari yang dilakukan secara tidak sadar atau “kerahuan” oleh para penari atau peserta ibadah terpilih. Kerauhan ini sendiri memiliki spesifikasi tersendiri yang lebih mendalam. Namun jangan samakan kerauhan dengan kerasukan karena kerauhan dilaksanakan dalam sebuah ritual keagamaan yang terdapat pemuput upacara (pemangku pura).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Berdasarkan hal tersebut kekuatan suci yang masuk dalam tubuh merupakan manifestasi-Nya. Akan tetapi jika tanpa adanya faktor-faktor seperti lokasi pelaksanaan harus berada di tempat suci (pura), adanya prosesi sakral maka terjadi kerauhan pada seseorang lebih tepat dikatakan kerasukan. Hal ini kemudian perlu dipertanyakan apa yang merasuki orang tersebut? Serem? Ndak ah. Selama kita menghormati langit dan bumi yang kita pijak dan hati kita bersih, alam pasti paham.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tips memotret ritual yang padat pengunjung.

  1. Datang lebih awal untuk bisa memetakan posisi pengambilan gambar terbaik. Liat situasi dan berbicaralah dengan orang-orang sekitar tentang ritual sehingga kita tahu prosesi dan tidak akan kehilangan momen.
  2. Jangan bawa peralatan yang terlalu heboh dan membuat gerak tubuh kita tidak fleksibel.
  3. Berpakaian yang sesuai dengan adat istiadat setempat. Ingat ini “rumah” mereka jangan sok tahu.
  4. Jangan egois mengejar foto hingga tidak menghormati kesakralan ritual, misalkan menggunakan flash saat-saat dibutuhkan fokus dan konsentrasi.
  5. Gunakan akal sehat, berbuat yang masuk akal tanpa perlu seseorang mengingatkan apa yang boleh dan tidak.
  6. Bawa handuk dan air putih agar tidak terkena dehidrasi.
  7. Simpan tutup lensa di tas. Gak perlu tutup lensa selama acara, agar kita sigap dalam segala momen.
  8. Selamat memotret!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

*Semua foto menggunakan #Olympus #OMD #EM5MarkII & #EM10MarkII #Zuikolens #75mm F 1.8 dan #1240mm F2.8 

[travel diaries] Pasar Tomohon, Pasar Ekstrem

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sewaktu melihat jadwal jalan #JelajahGiziMinahasa , sempat tertegun sejenak sih. Ada tulisan di situ, pasar tradisional Tomohon. Dari seluruh pasar di Indonesia, ini adalah satu-satunya pasar yang aku hindari. Sebagai penggemar pasar tradisional ini BIG DEAL banget! Ya abis gimana dong? Kalian yang udah kesana atau dengar ceritanya tahu kan mereka jualan segala jenis daging? Bahkan ada istilah semua yang bernafas, bisa dimakan dan berkaki kecuali kaki meja ada di pasar Tomohon. Sebagai penyayang binatang melihat anjing, kucing atau hewan apapun yang kita anggap piaraan dipanggang dan dipotong adalah mimpi buruk. Tapi ini kan harus banget kesana karena komitmen pada acara ini. Akhirnya diputuskan ikut kesana namun menjaga posisi untuk tidak berada di bagian penjual segala rupa daging.

Pasar Tradisional

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sebelum aku cerita tentang pengalaman kesana, berbagi cerita dulu kenapa aku begitu senang berkunjung ke pasar. Buat aku pasar tradisional adalah ruang untuk mempelajari begitu banyak hal, karakter penduduknya, aneka kuliner, jajanan, bahan masak dan ruang untuk bisa mendapatkan informasi. Sebelum mulai berkeliling kota dan menggali informasi tentang apapun, pasar selalu menjadi tujuan pertama petualangan kita.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Informasi tidak terduga bisa datang dari siapapun di sana karena siapapun yang ada di tempat itu akan membeli keperluannya di pasar. Menjelajah informasi di internet masih kalah dari informasi di pasar, serius deh. Oleh karena itu, buat kalian yang ingin menulis dan foto tentang kisah tempat tertentu. Mampirlah ke pasar tradisionalnya. Banyak hal menarik bermula dari pasar. Terutama kalau kalian ingin berlatih foto, pasar tempat yang sangat photogenic.

Kembali ke Tomohon, bis kami akhirnya tiba di pasar Tomohon. Aku mencoba celingukan ke segala arah tidak menemukan tanda-tanda ada anjing atau kucing dalam kandang. Bertanya pada bapak penjaga parkir dan dari penjelasannya pasar Ekstrem berada di sisi lain pasar Tomohon. Jadi aku akan aman-aman saja jika berada di sisi pasar tempat kami turun dari bis.

Baru turun aku sudah tertarik dengan daun-daunan aneh yang diperjualbelikan. Iya I have this weird thing dengan daun-daunan hehehehe…langsung melakukan pendekatan dengan berkenalan pada ibu penjual yang bernama Ibu Juliana. Aku pikir tadinya itu daun pohpohan (nama sundanya) tapi ternyata berbeda dari segi tekstur. Daun ini bernama Leilum, biasanya dalam kuliner Minahasa dia akan menjadi tumisan bersama daging. Iya daging, tikus tepatnya. WAKS!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kuliner tikus ini dinamakan Kawok. Jangan pikir ini tikus yang kita lihat di comberan atau got depan rumah. Kawok adalah tikus hutan ekor putih. Ekornya yang berwarna putih inilah yang membedakan tikus hutan dengan tikus rumahan atau got. Mereka berburu kawok di pohon-pohon besar seperti pohon enau. Orang Minahasa mengolah dagingnya tanpa ekor dengan bumbu racikan batang bawang, kemangi, sereh, cabe, goraka, daun lemon, kunyit, kepala santan dan daun Leilum. Namun namanya menu ya tergantung yang masak dan modifikasi apa yang dia lakukan. Kepala santan itu adalah perasaan santan pertama dari parutan buah kelapa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Selesai bertanya dengan ibu Juliana, berjalanlah aku menuju bagian dalam dari pasar. sepanjang jalan masuk ke pasar, kanan dan kiri aku melihat daun seperti daun keladi diikat. Penasaran lalu pendekatan lagi dengan salah satu penjual. Pas lagi jongkok untuk melihat dari dekat daun yang disenderkan ke dinding, aku melihat potongan singkong gosong di atas piring. ketika bertanya pada ibu penjual yang tidak sempat tanya namanya, WADUH…itu tikus panggang alias Kawok! Argh…aku pikir itu singkong yang baru keluar dari tanah atau gosong. Oh man!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Baiklah sha! Terlanjur terlihat dan akhirnya mengamati para pengunjung pasar. Beberapa ibu-ibu mendekati kawok panggang dan mengangkat bagian ekor yang tersisa untuk menyakinkan entah apa. Dalam beberapa saat kemudian, kawok pun ludes terjual. Wah akan banyak rumah di Tomohon dengan menu Kawok nampaknya malam ini. well…next!

Kembali ke daun yang mirip seperti keladi itu, ternyata namanya Daun Nasi. Sesederhana itu, daun nasi. Gunanya sebagai pembungkus nasi dan kemudian dikukus. Sempat terjadi tebak-tebakan apa jadinya nasi dalam bungkusan daun itu, aku nebak ketupat dia bilang bukan, lontong juga bukan akhirnya si ibu menyarankan aku untuk mencari si Oma. Satu pasar Tomohon hanya ada satu penjual Nasi Daun (dibalik kalo udah ada nasinya). Ya oke deh, keliling pasar cari si oma penjual nasi daun. Bertanya sana kemari sambil memperhatikan jalan, jangan sampai aku nyasar ke bagian anjing dan kucing.

OMA KETEMU! Yap. berkat kegigihan aku bertanya sana sini, penjual sekitar yang aku tanyakan jadi konsentrasi ikut menyarikan sosok oma. Ketika sedang berada di bagian penjual cakalang fufu, seseorang menyentuh pundak aku dan menunjukkan si Oma. Aduh Oma ini modis banget, baju pink dengan topi lebarnya membawa kontener plastik berisi nasi daun. Setelah dikasih tunjuk yang namanya nasi daun, oalaahhh ini kalo di bagian lain dari sulawesi namanya buras. Okey! Oma menawarkan nasi daun seharga Rp2.000 dengan tambahan tumis pakis dan rica. Rasanya? Enakk banget!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di samping mengunjungi semua bagian pasar yang ramah pemandangan hehehehe….pasar Tomohon juga menyediakan aneka jajan pasar.Ada penjual kolembang merah, apang bakar, cakalang asap, roa dan berbagai macam jajan pasar dan kuliner. Kalian sedang berada di Sulawesi, di mana aja di pulau ini semua makananya endeuz surendeuz. Jadi demikianlah pengalaman di pasar Tomohon. Kalian pikir aku akan bahas bahas soal sisi ekstrem pasar ini? Tikus panggang tadi udah cukup ekstrem buat aku hahahahaha. No No No….not in the million years aku akan menyebrang ke sisi sana walaupun itu hanya untuk melihat. Bisa pingsan dan mimpi buruk nanti. Cukup tahu aja bahwa ada selera tradisional yang mengkonsumsi hampir semua jenis hewan. Cukup tahu saja.

All photo in this Article taken by me with Olympus OMD EM5MarkII & EM10MarkII Zuiko Lens 17 mm F 1.8 and 45 mm F1.8.

*penggunaan foto dalam blog ini harus dengan persetujuan dari pemilik blog.