[Travel Diaries] Suku Kajang, Penjaga Semesta

Bercerita tentang suku Kajang tidak bisa selesai dalam satu kunjungan dan satu artikel. Membutuhkan waktu pengamatan yang lama dan pendalaman dengan tingkat keseriusan tinggi. Namun memahami pemikiran maju suku yang hanya berpakaian hitam ini, bisa dalam sekejap. Terletak di ujung kaki pulau Sulawesi, tepatnya di kabupaten Bulukumba, terdapat sebuah komunitas adat yang memutuskan hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan bukan berarti terbelakang, justru pemikiran tradisional mereka jauh lebih beradab dari kehidupan moderen yang sekarang kita jalani. Setidaknya ini bukan sekedar opini dari penulis artikel ini, bahkan dunia pun mengakuinya.

P7101621

SEJARAH KAJANG

Menjelaskan suku Kajang dengan sederhana adalah suku yang hidup tanpa fasilitas moderen, dalam kesehariannya berpakaian hitam-hitam, menggunakan bahasa dialek Konjo (sub bahasa Makassar) dan sangat menjaga keseimbangan alam semesta.

Asal muasal orang Kajang konon berasal dari tau manurung. Apakah itu tau manurung? Dalam catatan hikayat di tanah Sulawesi Selatan, tau manurung memiliki kisahnya masing-masing. Untuk suku Kajang, tau manurung adalah manusia pertama yang lahir di dunia.

P7101635

Manusia pertama, lahir di Tana Toa, tanah tertua. Fakta yang sangat dipercaya oleh suku Kajang, bahwa dahulu dunia ini menjadi satu benua yang kemudian terpecah-pecah dan manusia pertama yang turun di dunia turun di Kajang. Diceritakan pada awalnya bumi ini hanya daratan kecil seperti Tombolo atau tempurung kelapa yang dikelilingi air, pada daratan kecil terdapat pohon beringin yang di atasnya ada seekor burung koajang yang bertengker.

Proses kejadian alam atau bumi mengalami perubahan atau pemisahan benua yang dalam pasang (catatan adat Kajang) disebut sebagai Kajang rambang ilalang dan rambang luara. Itulah sebabnya orang Kajang menjadikan kue merah sebagai simbol proses kejadian alam. Filosofi pembuatan kue merah yang awalnya terbentuk dari setetes adonan (tepung, gula merah dan air) lalu dimasukkan kedalam minyak kelapa dan akhirnya mengembang. Dari sinilah orang Kajang menjadikan kue merah sebagai simbol doa dan pemersatu rumpun dan suku.

P7101644

Kajang sendiri berasal dari nama burung yaitu burung koajang (sejenis burung garuda), dipercaya sebagai yang membawa manusia pertama turun ke Kajang. Mereka percaya bahwa amma toa pertama dibawa oleh burung Kajang.

Mengapa orang Kajang berpakaian hitam? Hitam untuk menggambarkan kesederhanaan, bahwa hidup ini hanya ada hitam dan putih. Pakaian dikerjakan sendiri dengan bahan diberi pewarna alami.

P7101583

P7100432

P7100434

Berdasarkan peraturan daerah, pemerintah daerah sudah menetapkan masyarakat Amma Toa kajang ini sebagai masyarakat adat yang dilindungi. Kementrian Kehutanan sudah mengeluarkan status hutan mereka, yang tadinya status hutan produksi terbatas menjadi hutan adat. Ini adalah hutan adat pertama yang diserahkan kembali di Indonesia.

“Walaupun luasnya tidak seberapa namun ini merupakan momentum kebangkitan masyarakat adat Indonesia. Kemarin diserahkan oleh bapak Presiden Joko Widodo langsung di Istana Negara, “ jelas Andi Buyung Saputra. Pak Buyung demkian camat muda Kajang ini akrab dipanggil merupakan keturunan dari suku Kajang. Untuk posisinya dalam pemerintahan di luar adat akan disebut camat, untuk adat posisi itu diberi nama Labbiria Ri Kajang. Perwakilan masyarakat adat yang duduk dalam pemerintahan.

HIDUP BERSAMA ALAM

Yang membuat suku Kajang ini menarik adalah prinsip hidupnya yang berdampingan dengan alam (way of life). Catatan saja bahwa suku Kajang menganut agama Islam sejak lama. Namun cara pandang mereka dalam menjalani kehidupan adalah mengambil inspirasi alam. Hidup berdampingan dengan alam ini sering disalah artikan dengan aliran kepercayaan.

Mereka akan tersinggung sekali jika diragukan keislamannya. Namun memang agama adalah sesuatu bersifat yang pribadi, kebaikan dalam bertingkah laku sehai-harilah yang sepantasnya kita simak. Ini juga yang menjadi prinsip mendasar dari suku Kajang, berbuat baik terhadap sesama ciptaanNYA.

Bagi suku Kajang, alam hutan yang berada di sekitar dan mengelilingi desa mereka adalah kehidupan yang sangat perlu dijaga. Kebijakan itu diatur dalam hukum adat yang bernama pasang. Kebijakan itu dibagi menjadi 4 batang tubuh (utama), pertama mengatur hubungan dengan Turie’ A’rana (Yang Berkehendak – jika diterjemahkan secara harfiah yang bermakna Tuhan Yang Maha Kuasa), kedua mengatur hubungan dengan alam (harmonisasi) tentang perlakuan terhadap alam, ketiga masyarakat adat dengan pemerintahnya, keempat hubungan masyaakat dengan masyarakat.

Hukum manusia Kajang dengan alam ini mencakupi, aturan tidak boleh menebang pohon di hutan adat, tidak boleh mengambil madu di hutan, tidak boleh mengambil rotan di hutan adat karena rotan adalah ciri khas bahwa hutan masih perawan.

Tidak boleh mengambil madu di hutan karena mereka percaya bahwa madu dan lebah adalah sumber yang membuat hutan. Larangan terhadap pengambilan rotan di hutan adat karena rotan adalah ciri khas bahwa hutan masih perawan. Penelitian dari dinas kehutanan membenarkan, di mana ada rotan tumbuh dengan subur menandakan bahwa hutan tersebut masih menjaga sustainable natural life atau bisa dinyatakan hutan belum terjamah atau alami.

Untuk bisa menebang pohon, warga yang akan menggunakan harus terlebih dahulu meminta ijin dengan masyarakat adat dalam rapat adat. Menjelaskan alasan dan tujuan penebangan sebuah pohon. Jika sudah mendapatkan ijin, mereka memiliki kewajiban untuk menanam kembali pohon yang ditebangnya. Warga tersebut tidak akan diijinkan untuk menebang hingga pohon tersebut kembali tumbuh.

PERATURAN TIDAK TERTULIS

Batang tubuh atau peraturan utama yang disebutkan sebagai pasang kajang tidak boleh tertulis. Ya betul, tidak boleh dituliskan atau dibukukan harus dihafalkan. Setiap orang kajang tahu (wajib) batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh dalam aspek kehidupan. Ketika dihafalkan maka mereka tahu apa saja sehingga tidak ada pelanggaran karena alasan tidak mengetahui.

“Sebab sudah tahu karena dihafalkan, maka gerak langkah tubuh secara sadar sudah menyadari. Jika ditulis nanti ada yang tidak dibaca dan mencari mana yang boleh dan tidak. Jika sudah hafal maka akan seirama dengan pola pikir yang ada dalam masyarakat sini,” jelas Andi Buyung Saputra.

KUNJUNGAN WISATAWAN

Setelah membaca artikel ini, tentunya ada dari kalian yang tertarik untuk berkunjung ke Kajang. Lalu bagaimana caranya? Sementara suku Kajang dalam sendiri sejak tahun 2015 menutup diri dari dunia luar. Sikap menutup diri ini pun karena pelanggaran kepercayaan yang dilakukan oleh pihak luar (pendatang).

Sebuah perusahaan PH membuat film yang bertempat di suku Kajang. Setelah melakukan presentasi cerita film ke berbagai instansi hingga akhirnya mendapat ijin dari Amma Toa (kepala adat Kajang), film dibuat dan berjalan lancar. Disayangkan kemudian adanya perubahan kisah dengan menggambarkan suku Kajang dengan tidak pada tempatnya. Hal ini tentu saja membangkitkan kekecewaan dari warga Kajang terutama Amma Toa.

Peraturan adat yang tegas membuat Amma Toa memanggil pembuat film, namun tidak ada pertanggung jawaban dari pihak tersebut. Untuk itu individu atau perwakilan lokal yang membawa pembuat film dipanggil untuk disidang adat. Selain mendapatkan sanksi denda tertinggi harus melewati pengadilan adat yang panjang. Sejak itu Kajang Dalam tertutup dari luar.

Processed with VSCO with a6 preset

Kisah ini sudah diketahui luas oleh masyarakat Sulawesi, sehingga saat kehadiran aku dan team Linkers datang dan kemudian diterima dengan sangat baik oleh Amma Toa membawa kejutan tersendiri bagi (bahkan) Dinas Pariwisata Bulukumba. Kembali kepada pertanyaan, bisakah kalian mengunjungi suku Kajang? Bisa, dengan mengikuti prosedur dan peraturan.

Kalian harus menemui Galla Lombo’ (kepala desa) atau penghubung dunia luar dengan pemimpin adat (Amma Toa). Bersikaplah sopan dan menghormati, bagaimana pun “di mana bumi dipijak, di situ bumi dijunjung”. Terapkan itu kemana pun kita pergi, untuk menjadikan kita manusia yang lebih baik.

P7101566

Lalu dari Galla Lombo akan ada berita jika mendapatkan persetujuan dari Amma Toa. Kalian diwajibkan melepas alas kaki, tidak membawa kamera (tidak boleh mengambil foto), berpakaian hitam-hitam dan tentu saja bersikap sopan. Untuk lebih detilnya, arahkan perjalanan kalian (darimana pun) menuju Bira lalu ke Tanete dan dari sana silahkan bertanya kantor Camat Kajang untuk informasi lanjutan.

 

all photo taken with #Olympus #OMD #EM1MarkII #Zuikolens #12-40mmPRO F2.8

Advertisements

Catatan #kelasfotografi Pesona Nias

Bermain bersama Iwashere di Nias Selatan sungguh menantang sekaligus menyenangkan. Aku ndak tahu akan seperti apa nanti #kelasfotografi yang akan terjadi. Bahkan sebelum berangkat, aku diberitahu bahwa peserta “takut” karena kesannya serius dan mereka merasa tidak memiliki alat mumpuni. Ketika aku jelaskan bahwa tujuan utama aku dalam setiap sharing adalah “membangunkan” konten. Alat apa pun yang mereka punya tidak akan masalah. 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA          Processed with VSCO with 4 preset

Taken by Windy Ariestanty Processed with VSCO with 4 preset

Saat menulis blog ini aku masih berada di Nias. Seharusnya menemani kak Windy Ariestanty dan Jonathan Thamrin workshop dan pastinya akan keren sekali. Apa boleh dikata, bombardir Whatapps kerjaan bikin aku harus standby di hotel. Setelah semua kerjaan selesai, kok ya jadi nganggur banget. Daripada hanya menatap laut dan pria-pria pembawa papan setrikaan mulai turun ke laut, aku nulis ini aja deh buat kalian. Semoga bermanfaat!

Memotret dengan Ponsel

Tidak perlu malu atau ragu ketika alat yang tersedia hanyalah sebuah ponsel. Justru tugasmu adalah mencari tahu kekurangan dari ponselmu apa? Jika memang terlalu jadul sehingga tidak bisa digunakan dalam memotret keindahan, pemandangan, landscape, gunakan kecerdasan komposisi. Kecerdasan komposisi bisa dipelajari dengan latihan yang rajin.

Processed with VSCO with 10 preset

iPhone 6+ Processed with VSCO with 10 preset

Buat sekedar informasi saja, walaupun ponselnya mahal jika ia tidak bisa bermain dengan komposisi dan angle yang cerdas ya sudah. Mau dikasih kamera apa pun hasilnya ya gitu-gitu aja. Walaupun memang pada kenyataannya kamera yang bukan ponsel bisa mendapatkan beberapa teknis yang ponsel tidak bisa, misalkan pergerakan saat keadaan gelap, foto yang membutuhkan zoom (jarak jauh) dan beberapa teknis lainnya. Ya hadapi kenyataan carilah yang bisa, berhenti mengeluh dan segera bercerita!

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Buat aku yang bekerja memilih foto untuk majalah, akan melihat komposisi dan momen. Tidak semua foto yang ingin diceritakan harus dengan momen yang bergerak cepat? Bisa memotret pasar, potret, dan sebagainya. Pelajari komposisi dasar seperti rule of third, leading line dan sebagainya. Jangan hanya dibaca, praktekin dong. Bagaimana pun, mengatur komposisi adalah masalah membiasakan diri secara bawah sadar.

img_6840.jpg

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 4 preset

Leading line Processed with VSCO with 4 preset

Beberapa contoh komposisi dasar bisa kalian pelajari di sini dan untuk latihan coba keluarkan fitur grid dan cobalah latihan seperti yang dicontohkan di link tadi. Lalu pilih satu foto terbaik dan pisahkan. Selain kalian belajar untuk menggunakan komposisi, kalian juga latihan memilih foto. Harus tega ya sama diri sendiri. Usahakan jangan menyisakan foto yang serupa atau sejenis.

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Pilih penggunaan format vertikal (portrait) dan horisontal (landscape) untuk menyatakan emosi yang ingin ditekankan. Vertikal untuk memberitahu seberapa tinggi sedangkan horisontal untuk seberapa luas. Ambil 1 foto yang sama dengan alternatif 2 format vertikal dan horisontal.

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Gunakan setingan kualitas ukuran paling baik, superfine, large dan sebagainya. Setiap ponsel mempunyai penyebutan ukuran yang berbeda, selalu pilih yang terbaik agar nantinya jika ingin dicetak hasilnya akan lebih baik. Lalu jika ingin mendapatkan hasil lebih close up, lakukan dengan mendekat. Jangan menggunakan zoom pada ponsel, karena itu adalah digital zoom. Bahasa mudahnya itu gambar yang di tarik sehingga membesar, hasilnya akan kurang tajam.

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 4 preset

Aku paling senang bermain dengan cahaya, menggunakan cahaya pada sore hari sering menghasilkan gambar yang menyenangkan. Walaupun sedikit menyiksa modelnya, aku senang menyuruh mereka menghadap ke arah matahari. Senang aja liat hasil akhirnya. Gelap dan terang itu sangat penuh emosi…

 

Seperti cerita di bawah ini, ketika sedang wawancara seorang bapak pemilih rumah di desa Bawomataluo, beliau menyebutkan nama dari alat kukur kelapa (marut). Ketika berusaha menyebutkan ulang, aku masih salah dalam mengejanya. Setelah ketiga kali akhirnya bapak berinisiatif untuk menuliskannya. Mengambil kertas dari laci dan menuliskannya di meja, nampak tulisan asing. Ternyata Nias memiliki cara penulisan sendiri yang berbeda dari bahasa Indonesia. Ini menarik sekali! Lalu aku meminta bapak mengulang pose menulis dan aku mengambil gambar di bawa ini.

Processed with VSCO with 4 preset

Selebihnya kalian bisa membeli asesoris seperti tripod mini untuk kamera ponsel dan alat pendukung lainnya. Banyak hal menarik tentang Indonesia, terutama kampung halaman kalian semua. Misalkan Nias, begitu banyak yang bisa diceritakan namun jika kita browsing di google…sangat sedikit materi yang bisa kita gunakan sebagai petunjuk pendatang/wisatawan. Alangkah menyenangkan jika kalian yang tinggal di lokasi bisa menceritakan halaman belakang rumah kalian dengan bahasa visual kalian.

Bagaimana? Siap bercerita?

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 4 preset

All photos taken with #iPhone and edited VSCOCam

#PesonaNias #Nias #NiasSelatan

[Sasha’s Fav] Roti Selai, Bandung

Processed with VSCO with a6 preset

Kecil dan menggemaskan! Itu kata yang tepat untuk menggambarkan kedai mungil bernama Roti Selai. Walaupun deskripsi aku ini cukup jelas, kalian tidak akan pernah membayangkan betapa kecilnya tempat ini sampai kalian benar-benar ada di sana. Memang dasyat kolaborasi bakers & desain interior.

Processed with VSCO

Pemiliki Roti Selai adalah sepasang suami istri, suami yang memang pembuat roti atau baker sementara istrinya ahli desain interior. Kombinasi keahlian ini menyulap tempat semungil menjadi tempat yang menyenangkan dengan aroma yang menggiurkan.

Processed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 preset

Kedai yang hanya muat maksimum 12 orang di bagian luar dan dalamnya memang benar-benar “warung pojok” dalam arti sesungguhnya. Kalian harus bergantian untuk bisa masuk ke dalam ruang bagian dalam. Namun bagian yang paling menyenangkan duduk di dalam adalah wangi roti yang baru saja dipanggang whoaaaa….

Processed with VSCO

Rye Bread Sandwich, merupakan menu sarapan yang terdiri atas telur, roti, tumisan daging dan beberapa sayuran khas Kedai Roti Selai. Disajikan di atas piring cantik membuat selera sarapan dan semangat untuk ritual motret tinggi. Hehehehehe….biar bagaimana pun, memotretlah sebelum makan. ya kaaann….

Meringue Sandwich, menu ini favorit para pelanggan Roti Selai. Agar kalian bisa menikmati kelezatan dari menu sarapan yang satu ini, harus datang lebih pagi. Sudah dipastikan kehabisan kalau datang terlalu siang.

Processed with VSCO with a6 preset

Beef Curry with Onsen Egg and Brown Rice, menu ini sangat cocok bagi yang ingin sarapan dengan makanan berat. Nasi dengan rempah khusus ditambah bumbu kari yang nikmat.

Pada menu ini juga kalian akan mendapatkan telur dengan tingkat kematangan pas dan roti yang akan menambah kelezatan menu tersebut. Menu-menu makanan disini di mulai dari Rp10.000 – Rp50.000. Kedai Roti Selai ini bisa dikunjungi dari pukul 07.30-17.00 WIB. Khusus Hari Jumat, Kedai tutup dan akan buka kembali di keesokan harinya.

 

Roti Selai

Jalan Dago Golf Raya No. 98 Bandung

[All Photo taken by OMD Olympus EM10MarkII]