Membaca Pikiran Juri Lomba Foto

Seringkali saat forum-forum foto berkumpul, baik itu whatapps group atau dalam bentuk lainnya, topik lomba foto selalu menarik untuk disimak. Saya sangat kagum dengan mereka yang rajin mengikuti lomba. Memang butuh keahlian khusus dalam sebuah pertarungan, kurasi diri dan kebesaran hati. Karakter manusia bisa dilihat dari caranya menghadapi kemenangan atau kekalahan. Hanya ingin sekedar menulis tentang keadaan dari sisi seberang, dalam hal ini pemikiran juri. Tulisan ini hanya ulasan sederhana yang bersifat pribadi.

KURASI DIRI, MELAWAN EGO

Bisa dihitung jari beberapa kali mengikuti lomba. Sepertinya saya tidak “sabar” untuk hal yang satu ini. Walaupun demikian ada beberapa pengalaman menang lomba, memang rasanya sangat sangat menyenangkan dan adiktif. Ada semacam entah itu hormon atau apa ya namanya?

Eforia ya namanya? Pokoknya rasanya seperti menyambut detik pertama hari ulang tahun. Waktu kecil, bapak sering memberi kejutan hadiah ulang tahun seperti sepeda dan sebagainya. Membuka pintu saat hari ulang tahun adalah hari yang sangat ditunggu.

Begitu juga saat memenangi lomba. Walaupun saat pertama saya ikut lomba hanya berhadiah ponsel Nokia Gold limited series yang dikirim langsung dari Inggris. Waktu itu bingung banget itu ponsel mau diapakan hahaha….

Sampai detik ini pun saya ndak tahu, foto yang mana menang dalam lomba yang diselenggarakan Lonely Planet Internasional. Tahu-tahu dapat email bahwa saya menang 100 besar dari 24.000 foto yang masuk. Kalau ndak salah saya nomer 19 hahahahaha….itu yang hadiahnya Nokia slide warna emas.

Kali kedua ikut lomba, menang beberapa kali sebagai pemenang mingguan lalu masuk ke babak final. Hadiahnya berlibur ke pulau Komodo bersama bang Arbain Rambey.

1916234_105491619465727_5311473_n

Setelah itu disibukkan dengan pekerjaan sebagai konsultan komunikasi, waktu benar-benar tidak ada jedanya. Namun setelah itu tawaran menjadi juri berdatangan, salah satunya menjadi juri Garuda World Photo Contest (Lupa tahun berapa). Pengalaman sekolah seni rupa membantu banyak hal dalam melihat/membaca konteks karya. Lomba foto online-nya belum seru, namun setelah final lomba foto marathon/on the spot menjadi suatu hal yang menarik.

.1979709_819086114772937_472215490_n

Dalam beberapa lomba salah satunya yang diadakan Garuda, ketika para pemenang finalis diberi kamera untuk digunakan hunting dan hasilnya dikumpulkan. Perspektif foto jadi terlihat keasliannya. Bagaimana para fotografer ini dihadapkan dengan berbagai permasalahan baru.

  1. Kamera yang digunakan saat itu adalah kamera jenis baru, bahkan saat itu era mirrorless digital belum se-happening sekarang ya.
  2. Tugas on the spot seperti liputan/jurnalistik, yang tidak bisa menunggu langit biru kinclong baru motret. As it is …
  3. Memilih foto andalan dari sekian banyak foto yang dia ambil hari itu. Semakin membombardir konsep pengambilannya maka semakin sulit dalam pemilihan foto. Terlalu banyak pilihan.

Di sini proses pembelajaran membaca konteks pada lomba foto menjadi menarik. Seperti salah satunya saat lomba foto sebuah festival, saya melihat beberapa fotogafer sudah sering bertemu di “medan perang”. Namun saat pengumpulan, saya terkejut karena banyak di antara mereka kurang membaca konteks. Padahal saat berlomba, saya bisa melihat dengan baik foto-foto mereka itu bagus-bagus. Entah bagaimana yang dikumpulkan itu jauh dari konteks.

Ketika konteks pariwisata dibicarakan, tentunya yang terbayang adalah menampilkan foto yang bisa ‘Berbicara dan Mengundang” para calon investor dan wisatawan untuk datang.

Sementara foto/karya yang saya lihat lebih berbicara tentang ”ALAT FOTOGRAFINYA BAGUS”. Misalkan karena lensanya bagus sehingga menghasilkan gambar yang sharpness & contras yang baik, bokeh yang bergelimang halus atau bahkan warna-warni yang vibrant. Sangat indah untuk sekilas mengalihkan fokus kita pada tujuan utama. Apa tujuan utama?

‘Berbicara dan Mengundang” para calon investor dan wisatawan untuk datang.

Para wisatawan dan investor itu bukan fotogafer, mereka punya mata lain untuk melihat peluang itu dalam sebuah komunikasi. Tentunya foto ibu menidurkan anaknya dalam rumah dengan kain batik lusuh bukan bahan promosi pariwisata yang menarik perhatiankan?

Namun ini pun tidak hanya peserta, pembuat keputusan akhir yaitu pemerintah daerah ketika mengiklankan daerahnya tidak “memanfaatkan” jasa para juri sebagai konsultan malah memilih fotonya sendiri. Bagus menurut mereka terkadang bukanlah hasil karya yang dijuarakan.

Menjadi peserta lomba itu sulit, betul! Sama sulitnya dengan menjadi juri. Tega membuang foto yang menjadi harapan dan pilihan terbaik pembuatnya bukan perkara mudah. Namun itulah tugas dan pekerjaan saya ketika menjadi juri dan editor majalah.

Kurasi diri merupakan pertempuran semua orang. Tidak mudah namun ini adalah pelajaran seumur hidup. Walaupun hari ini saya menemukan celah untuk bisa lebih baik namun esok akan ada hal baru.

.

BUAH PIKIRAN DI WAKATOBI

Sesaat sebelum penjurian, seperti biasa kami melakukan preview. Semua foto yang masuk kita saksikan bersama-sama peserta. Lalu mata saya tertuju pada satu foto. Foto tentang tatanan rambut (PANTO). Pertama kali saya riset tentang Wakatobi di google (ketik Wakatobi), akan terlihat foto pantai dan bawah laut.

Screen Shot 2017-11-21 at 7.29.07 PM

Tidak ada foto kuliner dan budaya. Lalu ketika tiba di Wakatobi, sebuah pameran foto memamerkan karya foto seorang gadis dengan tatanan rambutnya. Ini menarik! Mengapa tidak ada yang pernah membahas soal Panto dalam pencarian. Lalu saya ketik Panto, yang keluar malah poster cinderella hahahaha…lalu saya tambahkan Panto, Wakatobi. Keluarlah foto tarian dan wajah namun bukan foto tentang riasan. Padahal Panto itu adalah tentang merias diri.

Screen Shot 2017-11-21 at 7.31.23 PM

Screen Shot 2017-11-21 at 7.31.41 PM

Tertarik dengan Panto lalu saya mencari sejarahnya. Tarian yang menjelaskan tentang peninggalan budaya lisan tua untuk sang raja.Tari Lariangi adalah tentang berdandan/tampil terbaik untuk sang Raja.

Akhirnya selama festival, saya disibukkan dengan mewawancara beberapa anak gadis dengan tatanan rambut panto. Percakapan mengalir. Saya lalu mengambil gambar dengan sudut pengambilan dari samping karena keunikan tatanan rambut yang menggunakan getah. Harapan saya, ada peserta yang cermat mengambil sudut pandang ini. Bukan soal wajah sang gadis namun soal tatanan rambut yang penuh dengan filosofi.

PB113431

Suasana  ribuan penari saat festival Wakatobi 2017

PB113418

Sulit untuk mencari background yang polos, kebetulan ada truk dekat situ saya pakai sebagai latar belakang.

PREVIEW AND SPOT ON!

Senang! Saat preview mata dan pikiran tertambat pada satu foto. Framingnya cantik (candid) dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Latar belakang biru di antara huru hara keramaian ribuan orang di lapangan. Terbayang, foto ini dijadikan billboard dengan tulisan “Ayo Ke Wakatobi!” Visual yang akan terekam oleh pemirsanya. Foto yang tidak mudah dilupakan.

.

Seperti saat melihat iklan papan iPhone pertama kali, foto sesederhana bulu burung laut, gelombang laut lalu ada tulisan foto ini diambil dengan menggunakan iPhone! BOOM! Tidak perlu foto yang rumit, semakin sederhana foto semakin sulit membuat dan bahkan memikirkan idenya. Bahkan ide iPhone beriklan seperti itu saja menurut saya KEREN!

.

TCH_1411

Juara 1 Wave Photo competition 2017 – Thaib Chaidar (Makassar)

.

Terbayang ketika orang melihat visual ini terpampang besar di jalanan, INI WAKATOBI!  Sementara orang lalu lalang dengan tidak yakinnya akan membaca ulang, “Oh ini Wakatobi ya? Ada ya seperti ini? Seperti Thailand ya?” – akhirnya menjadi sebuah perbincangan.

.

23472820_1886162234731981_7178850706577813967_n

Sebuah PERSONALITY kuat dari gugusan kepulauan yang diketahui hanya dari pantai dan kehidupan bawah lautnya. Ah tapi ini hanya pemikiran saya pribadi. Setiap orang bisa saja berbeda karena biar bagaimana pun lomba foto sangatlah subjektif. Mungkin saja saat di Wakatobi mood saya sedang keren-kerennya. Selamat ah!

Advertisements

[TRAVEL DIARIES] Ritual Sakral Ngarebong, Kesiman

 

Hampir seluruh ritual adat di Indonesia merayakan puji syukur kelahiran, selamatan rumah baru, kematian, penghormatan terhadap alam atau bumi (panen, laut, gunung berapi). Penghormatan terhadap alam bertujuan untuk keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Salah satunya yang saya hadiri di Bali adalah upacara Ngerebongan, Pura Pentilan Kesiman, Denpasar Timur, Kota Denpasar. Tradisi Ngerebongan ini sudah ada sekitar tahun 1937. Bukan hanya dari desa adat Kesiman, tapi ada juga dari Sanur, Pamogan, Sawangan, sekaligus 31 desa di sekitar Kesiman.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ritual Ngerebong ini dilaksanakan setiap 6 bulan sekali, di Pura Dalem Kesiman. Pada Ngerebong ini ada ritual  menusuk keris ke dada. Dalam bahasa Bali disebut “Ngurek” dan berbagai gerakan tari yang dilakukan secara tidak sadar atau “kerahuan” oleh para penari atau peserta ibadah terpilih. Kerauhan ini sendiri memiliki spesifikasi tersendiri yang lebih mendalam. Namun jangan samakan kerauhan dengan kerasukan karena kerauhan dilaksanakan dalam sebuah ritual keagamaan yang terdapat pemuput upacara (pemangku pura).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Berdasarkan hal tersebut kekuatan suci yang masuk dalam tubuh merupakan manifestasi-Nya. Akan tetapi jika tanpa adanya faktor-faktor seperti lokasi pelaksanaan harus berada di tempat suci (pura), adanya prosesi sakral maka terjadi kerauhan pada seseorang lebih tepat dikatakan kerasukan. Hal ini kemudian perlu dipertanyakan apa yang merasuki orang tersebut? Serem? Ndak ah. Selama kita menghormati langit dan bumi yang kita pijak dan hati kita bersih, alam pasti paham.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tips memotret ritual yang padat pengunjung.

  1. Datang lebih awal untuk bisa memetakan posisi pengambilan gambar terbaik. Liat situasi dan berbicaralah dengan orang-orang sekitar tentang ritual sehingga kita tahu prosesi dan tidak akan kehilangan momen.
  2. Jangan bawa peralatan yang terlalu heboh dan membuat gerak tubuh kita tidak fleksibel.
  3. Berpakaian yang sesuai dengan adat istiadat setempat. Ingat ini “rumah” mereka jangan sok tahu.
  4. Jangan egois mengejar foto hingga tidak menghormati kesakralan ritual, misalkan menggunakan flash saat-saat dibutuhkan fokus dan konsentrasi.
  5. Gunakan akal sehat, berbuat yang masuk akal tanpa perlu seseorang mengingatkan apa yang boleh dan tidak.
  6. Bawa handuk dan air putih agar tidak terkena dehidrasi.
  7. Simpan tutup lensa di tas. Gak perlu tutup lensa selama acara, agar kita sigap dalam segala momen.
  8. Selamat memotret!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

*Semua foto menggunakan #Olympus #OMD #EM5MarkII & #EM10MarkII #Zuikolens #75mm F 1.8 dan #1240mm F2.8 

[Tips Fotografi] Memotret Makanan Untuk Sosial Media

Melihat foto makanan kok kayaknya gampang banget gitu, tapi setelah dicoba….bisa jambak-jambak rambut sendiri karena makanan yang mau kita foto tampak tidak lezat….kzl kan? Padahal rumusan food photography kalo kata para fotografer profesional yang bekerja khusus untuk moto makanan adalah makanan yang di foto harus terlihat begitu enak sehingga orang jadi lapar dan ingin menggigit halaman kuliner.

Egg Station - Hotel dimana ini ya? Lupa....moto oleh penulis pakai ponsel edit VSCO

Egg Station – Hotel dimana ini ya? Lupa….moto oleh penulis pakai ponsel edit VSCO

Tapi itu kan kata mereka yang memang kerjaannya disana, kalau kalian cuman ingin motret untuk keperluan instagram dan facebook? Ya sama aja! Kalo ndak keliatan enak ya udah gagal aja itu foto….trus bagaimanakah supaya terlihat enak? Konsep! 

Foto makanan itu adanya di konsep. Bagaimana kalian bisa menterjemahkan makna dari makanan tersebut kedalam sebuah foto. Ya kalo kalian berada di cafe, coba deh manfaatin properti yang ada di cafe tersebut untuk memperkuat makanan dan minuman yang akan kita foto.

Breakfast - Home Mate, Seminyak Bali

Breakfast – Home Mate, Seminyak Bali photo by penulis  (belum di edit sama sekali)

Foto di atas itu murni bener diriku lagi mau sarapan bersama teman dan begitu liat ada tempat lucu depan hotel kami langsung aja kami berdua rempong banget. Semua properti kita pinjam dari mbaknya, mulai dari serbet, itu lada dan garam…voila! Cahaya yang dipakai itu ya cahaya alami aja, kaca jendela ada di belakang foto….jadi posisi kita menghadap ke jendela supaya bisa dapat cahaya yang menyenangkan.

Apakah foto makanan harus blur-blur atau basa canggihnya bokeh? Ndaklah! Ada sih fotografer pro yang membuat teori katanya foto makanan kudu bokeh….ndaklah! Kalo makanannya ribet semacam kepiting atau yang banyak tekstur….kita pake diafragma (F) besar lalu kemudian close up motonya….ya jadi kacau….foto capit doang yang keliatan. Apa enaknya ngeliat capit doang?

Gurame Bakar - foto oleh penulis dengan menggunakan ponsel edit VSCO cam

Gurame Bakar – foto oleh penulis dengan menggunakan ponsel edit VSCO cam

Korea BBQ  foto oleh penulis dengan menggunakan ponsel

Korea BBQ foto oleh penulis dengan menggunakan ponsel

Foto makanan itu peraturannya cuman 1 = harus terlihat enak dan bikin ngiler. Namanya konsep pemotretan jangan batasi dirimu dengan peraturan justru membuat karya fotonya jadi terkungkung. Kalau teknis foto ya memang tegas dan jelas peraturannya….kan teknis foto itu matematika tetapi kalo konsep ya ndak toh?

Tips :

  1. Pencahayaan/lighting itu segalanya!
  2. Keep it simple
  3. Pakai/gunakan props/properti yang sederhana
  4. Gunakan sedikit minyak untuk efek glossy (tapi kalo di restoran mungkin coba minta  olive oil)
  5. Masukkan sedikit unsur manusia dan aktifitasnya (ini sebenernya bagian dari konsep)

Berikut beberapa foto contoh dan selamat mencoba! Terima kasih.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Photo by me – OLYMPUS OMD Em10MarkII Zuikolens 45 mm F1.8

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Photo by me – OLYMPUS OMD EM10MarkII Zuiko Lens 45 mm F1.8

 

Ice Thai Tea Photo by @dailyaima Processed with VSCOcam with hb2 preset

Ice Thai Tea Dapoer si Teteh Photo by @dailyaima – Iphone Processed with VSCOcam with hb2 preset

Sirloin Pinchos foto oleh penulis (nah ini contoh dari penggunaan bokeh untuk fokus ke daging yang di colek ke saosnya)

Sirloin Pinchos foto oleh penulis (nah ini contoh dari penggunaan bokeh untuk fokus ke daging yang di colek ke saosnya)

Cheese Cake Photo by Peny Pujiati - Huawei Phone Processed with VSCOcam

Cheese Cake Photo by Peny Pujiati – Huawei Phone Processed with VSCOcam

Steak Photo by Peny Pujiati - Huawei Phone Processed with VSCOcam

Steak Photo by Peny Pujiati – Huawei Phone Processed with VSCOcam

Photo by Peny Pujiati - Huawei Phone Processed with VSCOcam

Photo by Peny Pujiati – Huawei Phone Processed with VSCOcam

Photo by Peny Pujiati - Huawei Phone Processed with VSCOcam

Photo by Peny Pujiati – Huawei Phone Processed with VSCOcam

Photo by @gabynelwan (instagram)

Photo by @gabynelwan (instagram)

Photo by @gabynelwan (instagram)

Photo by @gabynelwan (instagram)