[Photo Talk] “Food & Travel Photography”

 

Instagram Sasha

Halo Medan!

Olympus Cross Community Workshop
“Food & Travel Photography” by Marrysa Tunjung Sari @Poeticpicture

Bersama Olympus di kota Medan, aku akan berbagi tentang membuat foto kuliner dan perjalanan secara praktis namun menarik. Nanti saat workshop kita juga akan coba memotret food fotografi dalam travel.

Buat kalian para blogger atau pengguna social media yang hobi mengunggah foto makanan yuk ketemuan. Jangan lupa, catat tanggal dan segera daftar workshopnya pada hari Sabtu 18 Juni 2016 bertempat di Harbour9 Dinning & Bar.

Pendaftaran :
Nisa (Kuliner Medan ) : 0812 6091 1290

Berlaku untuk semua user kamera digital merek apapun
Biaya Pendaftaran Rp30.000 termasuk buka puasa bersama.

Lucky Draw
Hands On Kamera & Lensa (Pro & Premium) Olympus
Tempat Terbatas

Detail Acara :
Sabtu, 18 Juni 2016
pukul 14:00 – buka puasa
Harbour9 Dinning & Bar (Forum Nine Building Level G), Jl. Imam Bonjol no 9
Medan – Sumatra Utara

Supported by :
Citilink
Archa Photo
Kuliner Medan
Paprika
Harbour9

 

[TRAVEL DIARIES] JALAN-JALAN KE TOKYO DALAM 5 HARI (PART2)

Hari 1,2,3 : Karuizawa, Nagano 

Welcome to Karuizawa! Yiehaaaa Snow!

Welcome to Karuizawa! Yiehaaaa Snow!

Tidak punya waktu banyak tetapi ingin bisa menikmati Jepang dari berbagai musim dan suasana? Apalagi jika datang dari negara yang hanya mempunya satu musim saja, musim panas. Suatu impian bagi manusia tropis untuk bisa menyentuh salju atau merasakan musim dingin. Untuk ini kita bisa pergi ke Karuizawa. Setelah puas bermain di Asakusa, kita bisa langsung saja menuju ke stasiun kereta cepat Jepang atau Shinkansen. Perjalanan ke Karuizawa hanya mewakan waktu 1 jam hingga1,5 jam dengan menggunakan JR Hokuriku Shinkasen. Perjalanan satu arah akan memakan biaya sebesar 5.500 yen atau 10.00o Yen untuk perjalaan PP sudah termasuk Japan Rail Pass, JR Tokyo Wide Pass dan beberapa JR passes.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Suasana Karuizawa

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bangun di hari kedua menikmati matahari terbit ala Karuizawa

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Suasana pukul 6:30 pagi

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pengen sih kasih caption tapi bingung itu tulisan artinya apa hahahahahaha

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bermain dengan salju dan menikmati pemandangan pegunungan Asama-yama dan Hanamagari-yama. Salah satu kegiatan keluarga di Karuizawa bisa berupa kursus ski dan snowboarding yang serius atau sekedar bermain salju dan seluncuran. Pada malam hari jika punya keberanian lebih, kita bisa mencoba berendam air panas alami atau onsen. Hanya saja bagi mereka yang memiliki tattoo tidak diperbolehkan untuk bisa ikut berendam air panas.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Selain berwisata pemandangan dan aktifitas luar ruangan seperti ski, Karuizawa juga memiliki tempat belanja terkenal. Terletak tidak jauh sebelah selatan stasiun terdapat Prince Shopping Plaza, sebuah pusat belanja yang memiliki pemandangan indah dengan banyak gerai dari merek pakaian terkenal. Untuk membeli souvenir kalian bisa sedikit berjalanan kea rah utara, Kyu Karuizawa Shopping Street menjual berbagai produk lokal menarik untuk oleh-oleh.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Untuk yang tidak punya peralatan ski kita bisa sewa aneka peralatan

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sewa jaket atau perlengkapan di salju lengkap di sini

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sepatu adalah salah satu yang penting, salah pakai sepatu akan buat kita terpleset.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Penulis mencoba meluncur ….hihihihihihi….

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pusat perbelanjaan di Karuizawa

Hari 03 : Odaiba, Tokyo

Hari pertama di Jepang adalah Asakusa dan Karuizawa. Di sini saya menginap 3 hari 2 malam, menikmati pemandangan alam Karuizawa saat matahari terbit hingga terbenam. Setelah puas bermain dengan salju pada hari kamis siang kami berangkat menuju Tokyo. Pilihan untuk menikmati gemerlap Tokyo jatuh pada Odaiba, berjalan kaki sembari mencoba jajanan kaki lima ala Jepang, menikmati keindahan arsitektur gedung Fuji TV, mengunjungi robot Gundam raksasa, memotret replica patung Liberti dengan latar belakang rainbow bridge serta berakhir dengan makan malam di Aquacity Odaiba.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Untuk yang membawa keluarga, terutama anak-anak pasti akan menyenangi robot raksasa Gundam Odaiba. Tokoh Gundam yang terkenal dari film animasi Jepang berukuran 1:1 dengan ukuran yang diperkirakan dalam filmnya. Robot ini menjadi obyek foto menarik yang sangat mengingatkan kita akan film animasi Jepang yang sudah terkenal sejak jaman kita menonton dari video tape tahun 1980 an. Robot raksasa Gundam terletak di depan DiverCity Tokyo Plaza.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Hari 4 : Chinatown dan Motomachi

Hari ketiga kami habiskan waktu di Yokohama sebuah daerah tematik bagi mereka yang menyenangi kuliner dan wisata belanja. Chinatown dan Motomachi, dua lokasi area yang saling berdekatan dengan tema yang berbeda. Chinatown merupakan komunitas warga Cina Jepang yang sudah cukup lama tinggal di Jepang sedangkan Motomachi bergaya ala western atau Barat.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Menurut sejarahnya Yokohama merupakan gerbang bagi kebudayaan Barat di Jepang. Pelabuhan perdagangan terbesar, Yokohama sempat menikmati masa keemasannya sehingga begitu banyak budaya asing ikut masuk.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bagi yang ingin memulai harinya dengan kuliner bisa memulai dari Chinatown terlebih dahulu. Yokohama bisa dituju dengan menggunaan kereta komuter sekitar 45 menit ke selatan Tokyo. Tergantung dari mana posisi awal kita di kota Tokyo. Chinatown Yokohama merupakan daerah pecinan terbesar di Jepang, jika datang pada waktu yang tepat kita bisa menyaksikan berbagai acara atau festival seperti tahun baru Cina, Pertanda bahwa kita sudah berada d lokasi yang tepat, ada sebuah gerbang besar dengan empat warna khas Cina yang berdiri sejak tahun 1873.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Seperti pecinan pada umumnya, di Chinatown Yokohama banyak ditemui kuliner Cina dan percampuran antara Cina dan Jepang. Bagi yang ingin membeli oleh-oleh souvenir Jepang bisa memperolehnya di Motomachi. Toko souvenir menjual aneka dompet khas Jepang, kimono, permaianan tradisional Jepang dan juga souvenir lainya. Untuk kuliner beberapa makanan favorit seperti bakpao (Manju), Ramen dan berbagai jajanan khas Cina yang sudah “dijepankan”. Tentu saja percampuran keduanya justru membuat kuliner di Chinatown Yokohama menjadi unik.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah puas mencoba kuliner dari ujung ke ujung Chinatown Yokohama, saatnya untuk berjalan kaki sedikit menyeberangi persimpangan, kita akan menemui suasana yang berbeda. Motomachi, tidak hanya menyediakan surga bagi mereka yang menyukai wisata belanja namun di Motomachi kita bisa menemukan begitu banyak restoran Eropa, Amerika dan beberapa galeri seni. Untuk bisa menelusuri Motomachi kita memang harus menyediakan waktu seharian penuh. Mulai dari sarapan di Chinatown jalan-jalan seputar Chinatown hingga siang dan kemudian menikmati variasi kuliner barat lalu jalan-jalan sekitar Motomachi hingga sore kita bisa kembali pada kuliner Jepang.

 

…. [TO BE CONTINUE’D] Harajuku

*semua foto dalam blog ini menggunakan kamera #Olympus #OMD #EM5MK2 #1240mm F 2.8 #ZUIKOLENS

Memotret Java Jazz 2016

Memotret panggung buat aku itu sama seperti memotret balap. Buat kalian yang baru kenalan dengan aku di blog ini, dulu awal karier motret aku adalah sebagai jurnalis kontributor untuk Otomotif Group di Gramedia Kompas yang di Jalan Panjang. Kenapa aku bilang memotret panggung itu sama seperti memotret balap? Iya karena setiap momen yang berjalan itu terkadang tidak seseru fotonya. Moto balap yang jumlahnya sekian lap (putaran) itu bosan kalau tidak ada kejadian seru-seruan (maaf ya) seperti ada yang jatuh, underdog nyalip dan sebagainya. Jadi 1 frame foto itu harus bisa mewakili semangat dari balapan yang mungkin saja hari itu berlangsung biasa-biasa saja.

20160306225403

motret Java Jazz 2011 photo by Remigius Isworo

Begitu juga dengan memotret konser. Iya kalo yang di foto ekspresif. Walaupun yang konser itu group band rock sekali pun kalau si Band tidak “komunikatif” atau cenderung hanya memainkan musik sesuai dengan rekamannya, pasti akan membosankan. Tetapi tantangan sebagai jurnalis yang ditugasin tidak hanya “menonton” kami harus pandai membuat momen yang kalo kalian liat…akan berkomentar “WOW SERU BANGET!”

Screen Shot 2016-03-07 at 3.33.11 PM

Java Jazz 2008-2011

Setelah 5 tahun, akhirnya kemarin datang dan motret lagi. walaupun hanya bisa hadir di malam pertama penyelenggaraan. Java Jazz selalu mempunyai semangat atau aura yang menyenangkan. Malam itu aku datang sudah cukup malam, rangkaian artis yang ingin ditonton pun sudah mulai membuat labil. Ya karena kali ini datang sama mas suami kan…jadi musiknya itu harus kompromi. akhirnya kami sepakat untuk masuk ke arena Level 42. Semangat banget doi, maklum ini hits banget pas jaman dia muda (hihihihihi).

Pas sampai dalam kami berdua agak sedikit bosan, mas Mark King sebagai vokalis tidak begitu pandai berkomunikasi dengan penonton. Iya pada disko semua sih tapi tetep aja, ada momen “nguap” di beberapa set lagu. Untuk motret pun aku standby kamera kecil aku #olympusPEN #EPL7 dengan lensa #Zuiko 75 mm F 1.8 nyala terus. Karena pertunjukan mereka cukup monoton dan ketebak, aku menunggu drummer Level 42 yang sekarang, Pete Ray Biggin untuk pamer kemampuan drumnya. Yes! Lighting yang ciamik dan momen yang pas setelah pegel nungguin ….berhasil dapat foto dia sedang pamer ketiak hihihihi….tapi 1 frame ini mewakili dinamisnya Level 42 yang malam itu bisa dibilang cukup flat.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pete Ray Biggin, Level 42 (Olympus EPL7 Lens 75 mm F 1.8)

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pete Ray Biggin, Level42 (Olympus EPL7 Lens 75 mm F 1.8)

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mark King, Level42 (Olympus EPL7 Lens 75 mm F 1.8)

Kalau posting seperti ini pasti akan banyak pertanyaan mengenai setingan kamera. Setingan kamera itu tidak bisa sama untuk semua kondisi. Setiap kondisi punya perbedaan cahaya dan belum lagi elemen seperti warna, material, cuaca dan sebagainya. Tetapi saya selalu menjaga speed untuk foto panggung yang pecicilan di atas minimal 1/100 detik. Sebenarnya pun 1/100 detik juga tidak akan jadi begitu freeze kalo akting si pementas terlalu banyak lompat-lompat. Tetapi kembali lagi itu tergantung dari kondisi pencahayaan saat memotret. Oleh karena itu pilihan lensa bukaan besar selalu menjadi prioritas daftar lensa wajib beli. Untuk foto-foto di atas aku share data exif-nya dibawah ini.

Screen Shot 2016-03-07 at 3.44.59 PM

1/230 F 3,5 ISO 1600 Olympus EPL7 75 mm F 1.8

Setelah Level 42, aku mencoba melihat Yura Yunita (ini pun baru tau pas di Java Jazz – maaf ya beneran baru tau), Nor Salleh (penyanyi dari Malaysia), Group Ska Jepang dan Glenn. Tetapi untuk 2 penampil terakhir itu, aku ndak motret. PENUH BANGET! Asli! Banyak banget terutama yang Glenn. Waktu nonton Yura, act panggungnya ok lah tetapi karena musiknya ndak gitu akrab setelah 4 lagu kami pindah ke panggung lain. Akhirnya kami berdua stay di panggung Nor Salleh. Penyanyi Malaysia ini menyenangkan dalam mengajak penonton untuk diam dan menyaksikan dia. Padahal itu udah pukul 01.00 dini hari. Siapa dia? Silahkan kalian browsing aja sih….kalau aku dan mas suami begitu denger musiknya dan gaya dia berkomunikasi yang kocak kami memutuskan untuk nonton dia sampai selesai.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Musician – Yura Yunita band (OLYMPUS DIGITAL CAMERA)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Yura Yunita (OLYMPUS DIGITAL CAMERA)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Nor Salleh (OLYMPUS DIGITAL CAMERA)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Nor Salleh (OLYMPUS DIGITAL CAMERA)

 

Ya udah deh demikian pengalaman di Java Jazz 2016, terima kasih kepada majalah  #linkers #Citlink membuat aku datang dan nonton lagi Java Jazz setelah sekian lama gak hadir. What a great short night! Kalian punya foto #javajazz2016 ? Share dong linknya di komentar tulisan ini. Ya ya ya….