[Sasha’s Fav] Roti Selai, Bandung

Processed with VSCO with a6 preset

Kecil dan menggemaskan! Itu kata yang tepat untuk menggambarkan kedai mungil bernama Roti Selai. Walaupun deskripsi aku ini cukup jelas, kalian tidak akan pernah membayangkan betapa kecilnya tempat ini sampai kalian benar-benar ada di sana. Memang dasyat kolaborasi bakers & desain interior.

Processed with VSCO

Pemiliki Roti Selai adalah sepasang suami istri, suami yang memang pembuat roti atau baker sementara istrinya ahli desain interior. Kombinasi keahlian ini menyulap tempat semungil menjadi tempat yang menyenangkan dengan aroma yang menggiurkan.

Processed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 preset

Kedai yang hanya muat maksimum 12 orang di bagian luar dan dalamnya memang benar-benar “warung pojok” dalam arti sesungguhnya. Kalian harus bergantian untuk bisa masuk ke dalam ruang bagian dalam. Namun bagian yang paling menyenangkan duduk di dalam adalah wangi roti yang baru saja dipanggang whoaaaa….

Processed with VSCO

Rye Bread Sandwich, merupakan menu sarapan yang terdiri atas telur, roti, tumisan daging dan beberapa sayuran khas Kedai Roti Selai. Disajikan di atas piring cantik membuat selera sarapan dan semangat untuk ritual motret tinggi. Hehehehehe….biar bagaimana pun, memotretlah sebelum makan. ya kaaann….

Meringue Sandwich, menu ini favorit para pelanggan Roti Selai. Agar kalian bisa menikmati kelezatan dari menu sarapan yang satu ini, harus datang lebih pagi. Sudah dipastikan kehabisan kalau datang terlalu siang.

Processed with VSCO with a6 preset

Beef Curry with Onsen Egg and Brown Rice, menu ini sangat cocok bagi yang ingin sarapan dengan makanan berat. Nasi dengan rempah khusus ditambah bumbu kari yang nikmat.

Pada menu ini juga kalian akan mendapatkan telur dengan tingkat kematangan pas dan roti yang akan menambah kelezatan menu tersebut. Menu-menu makanan disini di mulai dari Rp10.000 – Rp50.000. Kedai Roti Selai ini bisa dikunjungi dari pukul 07.30-17.00 WIB. Khusus Hari Jumat, Kedai tutup dan akan buka kembali di keesokan harinya.

 

Roti Selai

Jalan Dago Golf Raya No. 98 Bandung

[All Photo taken by OMD Olympus EM10MarkII]

[Sasha’s Fav] Kedai Teko, Bandung

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kalau ke Bandung dan ndak nyempetin kemari pasti rasanya ada yang kurang. Selalu kangen dengan kedai yang satu ini. Salah satu tempat nyempil di Bandung yang menjadi favorit aku. Jadi Kedai Teko akan menjadi artikel pertama SASHA’S FAVORITE…

Tempatnya sangat tenang menghanyutkan, pohon-pohon tua tinggi menjulang tidak terusik. Secara aku adalah sejenis perempuan pemeluk pohon, tempat seperti ini tentunya jadi tempat ideal banget. Bicara soal usia,  kedai ini bukan kedai baru di Bandung. Usia kedai Teko sudah menginjak 18 tahun.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA

Awal kisahnya diceritakan oleh anak dari pemilik Kedai Teko, awalnya karena kebiasaan sang ibu yang senang menyuguhkan hidangan kepada tamu-tamu arisannya. Lalu ada ide bagaiman jika membuka kedai kecil di rumah saja, ide pun bersambut dan Kedai Teko mulai melayani pelanggan. Namun karena memang hanya senang melayani dan tidak terlalu ingin berjualan, Kedai Teko awalnya hanya buka dari pukul 14.00-16.00 WIB saja.

Saat beliau merasa lelah dan ingin istirahat maka kedai tutup…hehehehehe unik ya. Sembari tertawa Kang Ncis, panggilan akrab Krisna Satmoko, anak dari anak pemilik kedai menjelaskan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kalau sekarang sih kalian tidak perlu cemas karena Oma Tetsi telah konsisten membuka kedainya hingga larut malam. Selasa-Kamis 09.00-22.00 WIB dan Jumat-Minggu 09.00-23.00 WIB. Menu andalan yang menjadi favorit aku adalah poffertjes, kudapan dari Negeri Kincir Angin yang dilumuri gula merah dan gula bubuk. Untuk minuman silahkan pesan Chai Tea yang hangat dan lezat! Wah ini kombinasi yang berbahaya!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Chai tea merupakan teh khas India yang dicampur susu dengan bubuhan kayu manis, cengkeh, dan jahe. Chai tea memang menu andalan dari Kedai Teko. Selain itu tersedia juga menu pasta, ravioli, sandwich, aneka masakan nasi goreng, dan sup. Semua diracik dengan resep rumahan.

Kedai Teko

Jl. Neglasari No. 4, Ciumbuleuit – Bandung

[All Photo taken by OMD Olympus EM10MarkII]

 

[TRAVEL DIARIES] Ritual Sakral Ngarebong, Kesiman

 

Hampir seluruh ritual adat di Indonesia merayakan puji syukur kelahiran, selamatan rumah baru, kematian, penghormatan terhadap alam atau bumi (panen, laut, gunung berapi). Penghormatan terhadap alam bertujuan untuk keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Salah satunya yang saya hadiri di Bali adalah upacara Ngerebongan, Pura Pentilan Kesiman, Denpasar Timur, Kota Denpasar. Tradisi Ngerebongan ini sudah ada sekitar tahun 1937. Bukan hanya dari desa adat Kesiman, tapi ada juga dari Sanur, Pamogan, Sawangan, sekaligus 31 desa di sekitar Kesiman.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ritual Ngerebong ini dilaksanakan setiap 6 bulan sekali, di Pura Dalem Kesiman. Pada Ngerebong ini ada ritual  menusuk keris ke dada. Dalam bahasa Bali disebut “Ngurek” dan berbagai gerakan tari yang dilakukan secara tidak sadar atau “kerahuan” oleh para penari atau peserta ibadah terpilih. Kerauhan ini sendiri memiliki spesifikasi tersendiri yang lebih mendalam. Namun jangan samakan kerauhan dengan kerasukan karena kerauhan dilaksanakan dalam sebuah ritual keagamaan yang terdapat pemuput upacara (pemangku pura).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Berdasarkan hal tersebut kekuatan suci yang masuk dalam tubuh merupakan manifestasi-Nya. Akan tetapi jika tanpa adanya faktor-faktor seperti lokasi pelaksanaan harus berada di tempat suci (pura), adanya prosesi sakral maka terjadi kerauhan pada seseorang lebih tepat dikatakan kerasukan. Hal ini kemudian perlu dipertanyakan apa yang merasuki orang tersebut? Serem? Ndak ah. Selama kita menghormati langit dan bumi yang kita pijak dan hati kita bersih, alam pasti paham.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tips memotret ritual yang padat pengunjung.

  1. Datang lebih awal untuk bisa memetakan posisi pengambilan gambar terbaik. Liat situasi dan berbicaralah dengan orang-orang sekitar tentang ritual sehingga kita tahu prosesi dan tidak akan kehilangan momen.
  2. Jangan bawa peralatan yang terlalu heboh dan membuat gerak tubuh kita tidak fleksibel.
  3. Berpakaian yang sesuai dengan adat istiadat setempat. Ingat ini “rumah” mereka jangan sok tahu.
  4. Jangan egois mengejar foto hingga tidak menghormati kesakralan ritual, misalkan menggunakan flash saat-saat dibutuhkan fokus dan konsentrasi.
  5. Gunakan akal sehat, berbuat yang masuk akal tanpa perlu seseorang mengingatkan apa yang boleh dan tidak.
  6. Bawa handuk dan air putih agar tidak terkena dehidrasi.
  7. Simpan tutup lensa di tas. Gak perlu tutup lensa selama acara, agar kita sigap dalam segala momen.
  8. Selamat memotret!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

*Semua foto menggunakan #Olympus #OMD #EM5MarkII & #EM10MarkII #Zuikolens #75mm F 1.8 dan #1240mm F2.8