Membaca Pikiran Juri Lomba Foto

Seringkali saat forum-forum foto berkumpul, baik itu whatapps group atau dalam bentuk lainnya, topik lomba foto selalu menarik untuk disimak. Saya sangat kagum dengan mereka yang rajin mengikuti lomba. Memang butuh keahlian khusus dalam sebuah pertarungan, kurasi diri dan kebesaran hati. Karakter manusia bisa dilihat dari caranya menghadapi kemenangan atau kekalahan. Hanya ingin sekedar menulis tentang keadaan dari sisi seberang, dalam hal ini pemikiran juri. Tulisan ini hanya ulasan sederhana yang bersifat pribadi.

KURASI DIRI, MELAWAN EGO

Bisa dihitung jari beberapa kali mengikuti lomba. Sepertinya saya tidak “sabar” untuk hal yang satu ini. Walaupun demikian ada beberapa pengalaman menang lomba, memang rasanya sangat sangat menyenangkan dan adiktif. Ada semacam entah itu hormon atau apa ya namanya?

Eforia ya namanya? Pokoknya rasanya seperti menyambut detik pertama hari ulang tahun. Waktu kecil, bapak sering memberi kejutan hadiah ulang tahun seperti sepeda dan sebagainya. Membuka pintu saat hari ulang tahun adalah hari yang sangat ditunggu.

Begitu juga saat memenangi lomba. Walaupun saat pertama saya ikut lomba hanya berhadiah ponsel Nokia Gold limited series yang dikirim langsung dari Inggris. Waktu itu bingung banget itu ponsel mau diapakan hahaha….

Sampai detik ini pun saya ndak tahu, foto yang mana menang dalam lomba yang diselenggarakan Lonely Planet Internasional. Tahu-tahu dapat email bahwa saya menang 100 besar dari 24.000 foto yang masuk. Kalau ndak salah saya nomer 19 hahahahaha….itu yang hadiahnya Nokia slide warna emas.

Kali kedua ikut lomba, menang beberapa kali sebagai pemenang mingguan lalu masuk ke babak final. Hadiahnya berlibur ke pulau Komodo bersama bang Arbain Rambey.

1916234_105491619465727_5311473_n

Setelah itu disibukkan dengan pekerjaan sebagai konsultan komunikasi, waktu benar-benar tidak ada jedanya. Namun setelah itu tawaran menjadi juri berdatangan, salah satunya menjadi juri Garuda World Photo Contest (Lupa tahun berapa). Pengalaman sekolah seni rupa membantu banyak hal dalam melihat/membaca konteks karya. Lomba foto online-nya belum seru, namun setelah final lomba foto marathon/on the spot menjadi suatu hal yang menarik.

.1979709_819086114772937_472215490_n

Dalam beberapa lomba salah satunya yang diadakan Garuda, ketika para pemenang finalis diberi kamera untuk digunakan hunting dan hasilnya dikumpulkan. Perspektif foto jadi terlihat keasliannya. Bagaimana para fotografer ini dihadapkan dengan berbagai permasalahan baru.

  1. Kamera yang digunakan saat itu adalah kamera jenis baru, bahkan saat itu era mirrorless digital belum se-happening sekarang ya.
  2. Tugas on the spot seperti liputan/jurnalistik, yang tidak bisa menunggu langit biru kinclong baru motret. As it is …
  3. Memilih foto andalan dari sekian banyak foto yang dia ambil hari itu. Semakin membombardir konsep pengambilannya maka semakin sulit dalam pemilihan foto. Terlalu banyak pilihan.

Di sini proses pembelajaran membaca konteks pada lomba foto menjadi menarik. Seperti salah satunya saat lomba foto sebuah festival, saya melihat beberapa fotogafer sudah sering bertemu di “medan perang”. Namun saat pengumpulan, saya terkejut karena banyak di antara mereka kurang membaca konteks. Padahal saat berlomba, saya bisa melihat dengan baik foto-foto mereka itu bagus-bagus. Entah bagaimana yang dikumpulkan itu jauh dari konteks.

Ketika konteks pariwisata dibicarakan, tentunya yang terbayang adalah menampilkan foto yang bisa ‘Berbicara dan Mengundang” para calon investor dan wisatawan untuk datang.

Sementara foto/karya yang saya lihat lebih berbicara tentang ”ALAT FOTOGRAFINYA BAGUS”. Misalkan karena lensanya bagus sehingga menghasilkan gambar yang sharpness & contras yang baik, bokeh yang bergelimang halus atau bahkan warna-warni yang vibrant. Sangat indah untuk sekilas mengalihkan fokus kita pada tujuan utama. Apa tujuan utama?

‘Berbicara dan Mengundang” para calon investor dan wisatawan untuk datang.

Para wisatawan dan investor itu bukan fotogafer, mereka punya mata lain untuk melihat peluang itu dalam sebuah komunikasi. Tentunya foto ibu menidurkan anaknya dalam rumah dengan kain batik lusuh bukan bahan promosi pariwisata yang menarik perhatiankan?

Namun ini pun tidak hanya peserta, pembuat keputusan akhir yaitu pemerintah daerah ketika mengiklankan daerahnya tidak “memanfaatkan” jasa para juri sebagai konsultan malah memilih fotonya sendiri. Bagus menurut mereka terkadang bukanlah hasil karya yang dijuarakan.

Menjadi peserta lomba itu sulit, betul! Sama sulitnya dengan menjadi juri. Tega membuang foto yang menjadi harapan dan pilihan terbaik pembuatnya bukan perkara mudah. Namun itulah tugas dan pekerjaan saya ketika menjadi juri dan editor majalah.

Kurasi diri merupakan pertempuran semua orang. Tidak mudah namun ini adalah pelajaran seumur hidup. Walaupun hari ini saya menemukan celah untuk bisa lebih baik namun esok akan ada hal baru.

.

BUAH PIKIRAN DI WAKATOBI

Sesaat sebelum penjurian, seperti biasa kami melakukan preview. Semua foto yang masuk kita saksikan bersama-sama peserta. Lalu mata saya tertuju pada satu foto. Foto tentang tatanan rambut (PANTO). Pertama kali saya riset tentang Wakatobi di google (ketik Wakatobi), akan terlihat foto pantai dan bawah laut.

Screen Shot 2017-11-21 at 7.29.07 PM

Tidak ada foto kuliner dan budaya. Lalu ketika tiba di Wakatobi, sebuah pameran foto memamerkan karya foto seorang gadis dengan tatanan rambutnya. Ini menarik! Mengapa tidak ada yang pernah membahas soal Panto dalam pencarian. Lalu saya ketik Panto, yang keluar malah poster cinderella hahahaha…lalu saya tambahkan Panto, Wakatobi. Keluarlah foto tarian dan wajah namun bukan foto tentang riasan. Padahal Panto itu adalah tentang merias diri.

Screen Shot 2017-11-21 at 7.31.23 PM

Screen Shot 2017-11-21 at 7.31.41 PM

Tertarik dengan Panto lalu saya mencari sejarahnya. Tarian yang menjelaskan tentang peninggalan budaya lisan tua untuk sang raja.Tari Lariangi adalah tentang berdandan/tampil terbaik untuk sang Raja.

Akhirnya selama festival, saya disibukkan dengan mewawancara beberapa anak gadis dengan tatanan rambut panto. Percakapan mengalir. Saya lalu mengambil gambar dengan sudut pengambilan dari samping karena keunikan tatanan rambut yang menggunakan getah. Harapan saya, ada peserta yang cermat mengambil sudut pandang ini. Bukan soal wajah sang gadis namun soal tatanan rambut yang penuh dengan filosofi.

PB113431

Suasana  ribuan penari saat festival Wakatobi 2017

PB113418

Sulit untuk mencari background yang polos, kebetulan ada truk dekat situ saya pakai sebagai latar belakang.

PREVIEW AND SPOT ON!

Senang! Saat preview mata dan pikiran tertambat pada satu foto. Framingnya cantik (candid) dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Latar belakang biru di antara huru hara keramaian ribuan orang di lapangan. Terbayang, foto ini dijadikan billboard dengan tulisan “Ayo Ke Wakatobi!” Visual yang akan terekam oleh pemirsanya. Foto yang tidak mudah dilupakan.

.

Seperti saat melihat iklan papan iPhone pertama kali, foto sesederhana bulu burung laut, gelombang laut lalu ada tulisan foto ini diambil dengan menggunakan iPhone! BOOM! Tidak perlu foto yang rumit, semakin sederhana foto semakin sulit membuat dan bahkan memikirkan idenya. Bahkan ide iPhone beriklan seperti itu saja menurut saya KEREN!

.

TCH_1411

Juara 1 Wave Photo competition 2017 – Thaib Chaidar (Makassar)

.

Terbayang ketika orang melihat visual ini terpampang besar di jalanan, INI WAKATOBI!  Sementara orang lalu lalang dengan tidak yakinnya akan membaca ulang, “Oh ini Wakatobi ya? Ada ya seperti ini? Seperti Thailand ya?” – akhirnya menjadi sebuah perbincangan.

.

23472820_1886162234731981_7178850706577813967_n

Sebuah PERSONALITY kuat dari gugusan kepulauan yang diketahui hanya dari pantai dan kehidupan bawah lautnya. Ah tapi ini hanya pemikiran saya pribadi. Setiap orang bisa saja berbeda karena biar bagaimana pun lomba foto sangatlah subjektif. Mungkin saja saat di Wakatobi mood saya sedang keren-kerennya. Selamat ah!

Advertisements

[Travel Diaries] Suku Kajang, Penjaga Semesta

Bercerita tentang suku Kajang tidak bisa selesai dalam satu kunjungan dan satu artikel. Membutuhkan waktu pengamatan yang lama dan pendalaman dengan tingkat keseriusan tinggi. Namun memahami pemikiran maju suku yang hanya berpakaian hitam ini, bisa dalam sekejap. Terletak di ujung kaki pulau Sulawesi, tepatnya di kabupaten Bulukumba, terdapat sebuah komunitas adat yang memutuskan hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan bukan berarti terbelakang, justru pemikiran tradisional mereka jauh lebih beradab dari kehidupan moderen yang sekarang kita jalani. Setidaknya ini bukan sekedar opini dari penulis artikel ini, bahkan dunia pun mengakuinya.

P7101621

SEJARAH KAJANG

Menjelaskan suku Kajang dengan sederhana adalah suku yang hidup tanpa fasilitas moderen, dalam kesehariannya berpakaian hitam-hitam, menggunakan bahasa dialek Konjo (sub bahasa Makassar) dan sangat menjaga keseimbangan alam semesta.

Asal muasal orang Kajang konon berasal dari tau manurung. Apakah itu tau manurung? Dalam catatan hikayat di tanah Sulawesi Selatan, tau manurung memiliki kisahnya masing-masing. Untuk suku Kajang, tau manurung adalah manusia pertama yang lahir di dunia.

P7101635

Manusia pertama, lahir di Tana Toa, tanah tertua. Fakta yang sangat dipercaya oleh suku Kajang, bahwa dahulu dunia ini menjadi satu benua yang kemudian terpecah-pecah dan manusia pertama yang turun di dunia turun di Kajang. Diceritakan pada awalnya bumi ini hanya daratan kecil seperti Tombolo atau tempurung kelapa yang dikelilingi air, pada daratan kecil terdapat pohon beringin yang di atasnya ada seekor burung koajang yang bertengker.

Proses kejadian alam atau bumi mengalami perubahan atau pemisahan benua yang dalam pasang (catatan adat Kajang) disebut sebagai Kajang rambang ilalang dan rambang luara. Itulah sebabnya orang Kajang menjadikan kue merah sebagai simbol proses kejadian alam. Filosofi pembuatan kue merah yang awalnya terbentuk dari setetes adonan (tepung, gula merah dan air) lalu dimasukkan kedalam minyak kelapa dan akhirnya mengembang. Dari sinilah orang Kajang menjadikan kue merah sebagai simbol doa dan pemersatu rumpun dan suku.

P7101644

Kajang sendiri berasal dari nama burung yaitu burung koajang (sejenis burung garuda), dipercaya sebagai yang membawa manusia pertama turun ke Kajang. Mereka percaya bahwa amma toa pertama dibawa oleh burung Kajang.

Mengapa orang Kajang berpakaian hitam? Hitam untuk menggambarkan kesederhanaan, bahwa hidup ini hanya ada hitam dan putih. Pakaian dikerjakan sendiri dengan bahan diberi pewarna alami.

P7101583

P7100432

P7100434

Berdasarkan peraturan daerah, pemerintah daerah sudah menetapkan masyarakat Amma Toa kajang ini sebagai masyarakat adat yang dilindungi. Kementrian Kehutanan sudah mengeluarkan status hutan mereka, yang tadinya status hutan produksi terbatas menjadi hutan adat. Ini adalah hutan adat pertama yang diserahkan kembali di Indonesia.

“Walaupun luasnya tidak seberapa namun ini merupakan momentum kebangkitan masyarakat adat Indonesia. Kemarin diserahkan oleh bapak Presiden Joko Widodo langsung di Istana Negara, “ jelas Andi Buyung Saputra. Pak Buyung demkian camat muda Kajang ini akrab dipanggil merupakan keturunan dari suku Kajang. Untuk posisinya dalam pemerintahan di luar adat akan disebut camat, untuk adat posisi itu diberi nama Labbiria Ri Kajang. Perwakilan masyarakat adat yang duduk dalam pemerintahan.

HIDUP BERSAMA ALAM

Yang membuat suku Kajang ini menarik adalah prinsip hidupnya yang berdampingan dengan alam (way of life). Catatan saja bahwa suku Kajang menganut agama Islam sejak lama. Namun cara pandang mereka dalam menjalani kehidupan adalah mengambil inspirasi alam. Hidup berdampingan dengan alam ini sering disalah artikan dengan aliran kepercayaan.

Mereka akan tersinggung sekali jika diragukan keislamannya. Namun memang agama adalah sesuatu bersifat yang pribadi, kebaikan dalam bertingkah laku sehai-harilah yang sepantasnya kita simak. Ini juga yang menjadi prinsip mendasar dari suku Kajang, berbuat baik terhadap sesama ciptaanNYA.

Bagi suku Kajang, alam hutan yang berada di sekitar dan mengelilingi desa mereka adalah kehidupan yang sangat perlu dijaga. Kebijakan itu diatur dalam hukum adat yang bernama pasang. Kebijakan itu dibagi menjadi 4 batang tubuh (utama), pertama mengatur hubungan dengan Turie’ A’rana (Yang Berkehendak – jika diterjemahkan secara harfiah yang bermakna Tuhan Yang Maha Kuasa), kedua mengatur hubungan dengan alam (harmonisasi) tentang perlakuan terhadap alam, ketiga masyarakat adat dengan pemerintahnya, keempat hubungan masyaakat dengan masyarakat.

Hukum manusia Kajang dengan alam ini mencakupi, aturan tidak boleh menebang pohon di hutan adat, tidak boleh mengambil madu di hutan, tidak boleh mengambil rotan di hutan adat karena rotan adalah ciri khas bahwa hutan masih perawan.

Tidak boleh mengambil madu di hutan karena mereka percaya bahwa madu dan lebah adalah sumber yang membuat hutan. Larangan terhadap pengambilan rotan di hutan adat karena rotan adalah ciri khas bahwa hutan masih perawan. Penelitian dari dinas kehutanan membenarkan, di mana ada rotan tumbuh dengan subur menandakan bahwa hutan tersebut masih menjaga sustainable natural life atau bisa dinyatakan hutan belum terjamah atau alami.

Untuk bisa menebang pohon, warga yang akan menggunakan harus terlebih dahulu meminta ijin dengan masyarakat adat dalam rapat adat. Menjelaskan alasan dan tujuan penebangan sebuah pohon. Jika sudah mendapatkan ijin, mereka memiliki kewajiban untuk menanam kembali pohon yang ditebangnya. Warga tersebut tidak akan diijinkan untuk menebang hingga pohon tersebut kembali tumbuh.

PERATURAN TIDAK TERTULIS

Batang tubuh atau peraturan utama yang disebutkan sebagai pasang kajang tidak boleh tertulis. Ya betul, tidak boleh dituliskan atau dibukukan harus dihafalkan. Setiap orang kajang tahu (wajib) batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh dalam aspek kehidupan. Ketika dihafalkan maka mereka tahu apa saja sehingga tidak ada pelanggaran karena alasan tidak mengetahui.

“Sebab sudah tahu karena dihafalkan, maka gerak langkah tubuh secara sadar sudah menyadari. Jika ditulis nanti ada yang tidak dibaca dan mencari mana yang boleh dan tidak. Jika sudah hafal maka akan seirama dengan pola pikir yang ada dalam masyarakat sini,” jelas Andi Buyung Saputra.

KUNJUNGAN WISATAWAN

Setelah membaca artikel ini, tentunya ada dari kalian yang tertarik untuk berkunjung ke Kajang. Lalu bagaimana caranya? Sementara suku Kajang dalam sendiri sejak tahun 2015 menutup diri dari dunia luar. Sikap menutup diri ini pun karena pelanggaran kepercayaan yang dilakukan oleh pihak luar (pendatang).

Sebuah perusahaan PH membuat film yang bertempat di suku Kajang. Setelah melakukan presentasi cerita film ke berbagai instansi hingga akhirnya mendapat ijin dari Amma Toa (kepala adat Kajang), film dibuat dan berjalan lancar. Disayangkan kemudian adanya perubahan kisah dengan menggambarkan suku Kajang dengan tidak pada tempatnya. Hal ini tentu saja membangkitkan kekecewaan dari warga Kajang terutama Amma Toa.

Peraturan adat yang tegas membuat Amma Toa memanggil pembuat film, namun tidak ada pertanggung jawaban dari pihak tersebut. Untuk itu individu atau perwakilan lokal yang membawa pembuat film dipanggil untuk disidang adat. Selain mendapatkan sanksi denda tertinggi harus melewati pengadilan adat yang panjang. Sejak itu Kajang Dalam tertutup dari luar.

Processed with VSCO with a6 preset

Kisah ini sudah diketahui luas oleh masyarakat Sulawesi, sehingga saat kehadiran aku dan team Linkers datang dan kemudian diterima dengan sangat baik oleh Amma Toa membawa kejutan tersendiri bagi (bahkan) Dinas Pariwisata Bulukumba. Kembali kepada pertanyaan, bisakah kalian mengunjungi suku Kajang? Bisa, dengan mengikuti prosedur dan peraturan.

Kalian harus menemui Galla Lombo’ (kepala desa) atau penghubung dunia luar dengan pemimpin adat (Amma Toa). Bersikaplah sopan dan menghormati, bagaimana pun “di mana bumi dipijak, di situ bumi dijunjung”. Terapkan itu kemana pun kita pergi, untuk menjadikan kita manusia yang lebih baik.

P7101566

Lalu dari Galla Lombo akan ada berita jika mendapatkan persetujuan dari Amma Toa. Kalian diwajibkan melepas alas kaki, tidak membawa kamera (tidak boleh mengambil foto), berpakaian hitam-hitam dan tentu saja bersikap sopan. Untuk lebih detilnya, arahkan perjalanan kalian (darimana pun) menuju Bira lalu ke Tanete dan dari sana silahkan bertanya kantor Camat Kajang untuk informasi lanjutan.

 

all photo taken with #Olympus #OMD #EM1MarkII #Zuikolens #12-40mmPRO F2.8

Catatan #kelasfotografi Pesona Nias

Bermain bersama Iwashere di Nias Selatan sungguh menantang sekaligus menyenangkan. Aku ndak tahu akan seperti apa nanti #kelasfotografi yang akan terjadi. Bahkan sebelum berangkat, aku diberitahu bahwa peserta “takut” karena kesannya serius dan mereka merasa tidak memiliki alat mumpuni. Ketika aku jelaskan bahwa tujuan utama aku dalam setiap sharing adalah “membangunkan” konten. Alat apa pun yang mereka punya tidak akan masalah. 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA          Processed with VSCO with 4 preset

Taken by Windy Ariestanty Processed with VSCO with 4 preset

Saat menulis blog ini aku masih berada di Nias. Seharusnya menemani kak Windy Ariestanty dan Jonathan Thamrin workshop dan pastinya akan keren sekali. Apa boleh dikata, bombardir Whatapps kerjaan bikin aku harus standby di hotel. Setelah semua kerjaan selesai, kok ya jadi nganggur banget. Daripada hanya menatap laut dan pria-pria pembawa papan setrikaan mulai turun ke laut, aku nulis ini aja deh buat kalian. Semoga bermanfaat!

Memotret dengan Ponsel

Tidak perlu malu atau ragu ketika alat yang tersedia hanyalah sebuah ponsel. Justru tugasmu adalah mencari tahu kekurangan dari ponselmu apa? Jika memang terlalu jadul sehingga tidak bisa digunakan dalam memotret keindahan, pemandangan, landscape, gunakan kecerdasan komposisi. Kecerdasan komposisi bisa dipelajari dengan latihan yang rajin.

Processed with VSCO with 10 preset

iPhone 6+ Processed with VSCO with 10 preset

Buat sekedar informasi saja, walaupun ponselnya mahal jika ia tidak bisa bermain dengan komposisi dan angle yang cerdas ya sudah. Mau dikasih kamera apa pun hasilnya ya gitu-gitu aja. Walaupun memang pada kenyataannya kamera yang bukan ponsel bisa mendapatkan beberapa teknis yang ponsel tidak bisa, misalkan pergerakan saat keadaan gelap, foto yang membutuhkan zoom (jarak jauh) dan beberapa teknis lainnya. Ya hadapi kenyataan carilah yang bisa, berhenti mengeluh dan segera bercerita!

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Buat aku yang bekerja memilih foto untuk majalah, akan melihat komposisi dan momen. Tidak semua foto yang ingin diceritakan harus dengan momen yang bergerak cepat? Bisa memotret pasar, potret, dan sebagainya. Pelajari komposisi dasar seperti rule of third, leading line dan sebagainya. Jangan hanya dibaca, praktekin dong. Bagaimana pun, mengatur komposisi adalah masalah membiasakan diri secara bawah sadar.

img_6840.jpg

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 4 preset

Leading line Processed with VSCO with 4 preset

Beberapa contoh komposisi dasar bisa kalian pelajari di sini dan untuk latihan coba keluarkan fitur grid dan cobalah latihan seperti yang dicontohkan di link tadi. Lalu pilih satu foto terbaik dan pisahkan. Selain kalian belajar untuk menggunakan komposisi, kalian juga latihan memilih foto. Harus tega ya sama diri sendiri. Usahakan jangan menyisakan foto yang serupa atau sejenis.

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Pilih penggunaan format vertikal (portrait) dan horisontal (landscape) untuk menyatakan emosi yang ingin ditekankan. Vertikal untuk memberitahu seberapa tinggi sedangkan horisontal untuk seberapa luas. Ambil 1 foto yang sama dengan alternatif 2 format vertikal dan horisontal.

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Gunakan setingan kualitas ukuran paling baik, superfine, large dan sebagainya. Setiap ponsel mempunyai penyebutan ukuran yang berbeda, selalu pilih yang terbaik agar nantinya jika ingin dicetak hasilnya akan lebih baik. Lalu jika ingin mendapatkan hasil lebih close up, lakukan dengan mendekat. Jangan menggunakan zoom pada ponsel, karena itu adalah digital zoom. Bahasa mudahnya itu gambar yang di tarik sehingga membesar, hasilnya akan kurang tajam.

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 4 preset

Aku paling senang bermain dengan cahaya, menggunakan cahaya pada sore hari sering menghasilkan gambar yang menyenangkan. Walaupun sedikit menyiksa modelnya, aku senang menyuruh mereka menghadap ke arah matahari. Senang aja liat hasil akhirnya. Gelap dan terang itu sangat penuh emosi…

 

Seperti cerita di bawah ini, ketika sedang wawancara seorang bapak pemilih rumah di desa Bawomataluo, beliau menyebutkan nama dari alat kukur kelapa (marut). Ketika berusaha menyebutkan ulang, aku masih salah dalam mengejanya. Setelah ketiga kali akhirnya bapak berinisiatif untuk menuliskannya. Mengambil kertas dari laci dan menuliskannya di meja, nampak tulisan asing. Ternyata Nias memiliki cara penulisan sendiri yang berbeda dari bahasa Indonesia. Ini menarik sekali! Lalu aku meminta bapak mengulang pose menulis dan aku mengambil gambar di bawa ini.

Processed with VSCO with 4 preset

Selebihnya kalian bisa membeli asesoris seperti tripod mini untuk kamera ponsel dan alat pendukung lainnya. Banyak hal menarik tentang Indonesia, terutama kampung halaman kalian semua. Misalkan Nias, begitu banyak yang bisa diceritakan namun jika kita browsing di google…sangat sedikit materi yang bisa kita gunakan sebagai petunjuk pendatang/wisatawan. Alangkah menyenangkan jika kalian yang tinggal di lokasi bisa menceritakan halaman belakang rumah kalian dengan bahasa visual kalian.

Bagaimana? Siap bercerita?

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 4 preset

All photos taken with #iPhone and edited VSCOCam

#PesonaNias #Nias #NiasSelatan