Memotret Java Jazz 2016

Memotret panggung buat aku itu sama seperti memotret balap. Buat kalian yang baru kenalan dengan aku di blog ini, dulu awal karier motret aku adalah sebagai jurnalis kontributor untuk Otomotif Group di Gramedia Kompas yang di Jalan Panjang. Kenapa aku bilang memotret panggung itu sama seperti memotret balap? Iya karena setiap momen yang berjalan itu terkadang tidak seseru fotonya. Moto balap yang jumlahnya sekian lap (putaran) itu bosan kalau tidak ada kejadian seru-seruan (maaf ya) seperti ada yang jatuh, underdog nyalip dan sebagainya. Jadi 1 frame foto itu harus bisa mewakili semangat dari balapan yang mungkin saja hari itu berlangsung biasa-biasa saja.

20160306225403

motret Java Jazz 2011 photo by Remigius Isworo

Begitu juga dengan memotret konser. Iya kalo yang di foto ekspresif. Walaupun yang konser itu group band rock sekali pun kalau si Band tidak “komunikatif” atau cenderung hanya memainkan musik sesuai dengan rekamannya, pasti akan membosankan. Tetapi tantangan sebagai jurnalis yang ditugasin tidak hanya “menonton” kami harus pandai membuat momen yang kalo kalian liat…akan berkomentar “WOW SERU BANGET!”

Screen Shot 2016-03-07 at 3.33.11 PM

Java Jazz 2008-2011

Setelah 5 tahun, akhirnya kemarin datang dan motret lagi. walaupun hanya bisa hadir di malam pertama penyelenggaraan. Java Jazz selalu mempunyai semangat atau aura yang menyenangkan. Malam itu aku datang sudah cukup malam, rangkaian artis yang ingin ditonton pun sudah mulai membuat labil. Ya karena kali ini datang sama mas suami kan…jadi musiknya itu harus kompromi. akhirnya kami sepakat untuk masuk ke arena Level 42. Semangat banget doi, maklum ini hits banget pas jaman dia muda (hihihihihi).

Pas sampai dalam kami berdua agak sedikit bosan, mas Mark King sebagai vokalis tidak begitu pandai berkomunikasi dengan penonton. Iya pada disko semua sih tapi tetep aja, ada momen “nguap” di beberapa set lagu. Untuk motret pun aku standby kamera kecil aku #olympusPEN #EPL7 dengan lensa #Zuiko 75 mm F 1.8 nyala terus. Karena pertunjukan mereka cukup monoton dan ketebak, aku menunggu drummer Level 42 yang sekarang, Pete Ray Biggin untuk pamer kemampuan drumnya. Yes! Lighting yang ciamik dan momen yang pas setelah pegel nungguin ….berhasil dapat foto dia sedang pamer ketiak hihihihi….tapi 1 frame ini mewakili dinamisnya Level 42 yang malam itu bisa dibilang cukup flat.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pete Ray Biggin, Level 42 (Olympus EPL7 Lens 75 mm F 1.8)

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pete Ray Biggin, Level42 (Olympus EPL7 Lens 75 mm F 1.8)

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mark King, Level42 (Olympus EPL7 Lens 75 mm F 1.8)

Kalau posting seperti ini pasti akan banyak pertanyaan mengenai setingan kamera. Setingan kamera itu tidak bisa sama untuk semua kondisi. Setiap kondisi punya perbedaan cahaya dan belum lagi elemen seperti warna, material, cuaca dan sebagainya. Tetapi saya selalu menjaga speed untuk foto panggung yang pecicilan di atas minimal 1/100 detik. Sebenarnya pun 1/100 detik juga tidak akan jadi begitu freeze kalo akting si pementas terlalu banyak lompat-lompat. Tetapi kembali lagi itu tergantung dari kondisi pencahayaan saat memotret. Oleh karena itu pilihan lensa bukaan besar selalu menjadi prioritas daftar lensa wajib beli. Untuk foto-foto di atas aku share data exif-nya dibawah ini.

Screen Shot 2016-03-07 at 3.44.59 PM

1/230 F 3,5 ISO 1600 Olympus EPL7 75 mm F 1.8

Setelah Level 42, aku mencoba melihat Yura Yunita (ini pun baru tau pas di Java Jazz – maaf ya beneran baru tau), Nor Salleh (penyanyi dari Malaysia), Group Ska Jepang dan Glenn. Tetapi untuk 2 penampil terakhir itu, aku ndak motret. PENUH BANGET! Asli! Banyak banget terutama yang Glenn. Waktu nonton Yura, act panggungnya ok lah tetapi karena musiknya ndak gitu akrab setelah 4 lagu kami pindah ke panggung lain. Akhirnya kami berdua stay di panggung Nor Salleh. Penyanyi Malaysia ini menyenangkan dalam mengajak penonton untuk diam dan menyaksikan dia. Padahal itu udah pukul 01.00 dini hari. Siapa dia? Silahkan kalian browsing aja sih….kalau aku dan mas suami begitu denger musiknya dan gaya dia berkomunikasi yang kocak kami memutuskan untuk nonton dia sampai selesai.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Musician – Yura Yunita band (OLYMPUS DIGITAL CAMERA)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Yura Yunita (OLYMPUS DIGITAL CAMERA)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Nor Salleh (OLYMPUS DIGITAL CAMERA)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Nor Salleh (OLYMPUS DIGITAL CAMERA)

 

Ya udah deh demikian pengalaman di Java Jazz 2016, terima kasih kepada majalah  #linkers #Citlink membuat aku datang dan nonton lagi Java Jazz setelah sekian lama gak hadir. What a great short night! Kalian punya foto #javajazz2016 ? Share dong linknya di komentar tulisan ini. Ya ya ya….

 

Advertisements

[Tips Fotografi] Memotret Makanan Untuk Sosial Media

Melihat foto makanan kok kayaknya gampang banget gitu, tapi setelah dicoba….bisa jambak-jambak rambut sendiri karena makanan yang mau kita foto tampak tidak lezat….kzl kan? Padahal rumusan food photography kalo kata para fotografer profesional yang bekerja khusus untuk moto makanan adalah makanan yang di foto harus terlihat begitu enak sehingga orang jadi lapar dan ingin menggigit halaman kuliner.

Egg Station - Hotel dimana ini ya? Lupa....moto oleh penulis pakai ponsel edit VSCO

Egg Station – Hotel dimana ini ya? Lupa….moto oleh penulis pakai ponsel edit VSCO

Tapi itu kan kata mereka yang memang kerjaannya disana, kalau kalian cuman ingin motret untuk keperluan instagram dan facebook? Ya sama aja! Kalo ndak keliatan enak ya udah gagal aja itu foto….trus bagaimanakah supaya terlihat enak? Konsep! 

Foto makanan itu adanya di konsep. Bagaimana kalian bisa menterjemahkan makna dari makanan tersebut kedalam sebuah foto. Ya kalo kalian berada di cafe, coba deh manfaatin properti yang ada di cafe tersebut untuk memperkuat makanan dan minuman yang akan kita foto.

Breakfast - Home Mate, Seminyak Bali

Breakfast – Home Mate, Seminyak Bali photo by penulis  (belum di edit sama sekali)

Foto di atas itu murni bener diriku lagi mau sarapan bersama teman dan begitu liat ada tempat lucu depan hotel kami langsung aja kami berdua rempong banget. Semua properti kita pinjam dari mbaknya, mulai dari serbet, itu lada dan garam…voila! Cahaya yang dipakai itu ya cahaya alami aja, kaca jendela ada di belakang foto….jadi posisi kita menghadap ke jendela supaya bisa dapat cahaya yang menyenangkan.

Apakah foto makanan harus blur-blur atau basa canggihnya bokeh? Ndaklah! Ada sih fotografer pro yang membuat teori katanya foto makanan kudu bokeh….ndaklah! Kalo makanannya ribet semacam kepiting atau yang banyak tekstur….kita pake diafragma (F) besar lalu kemudian close up motonya….ya jadi kacau….foto capit doang yang keliatan. Apa enaknya ngeliat capit doang?

Gurame Bakar - foto oleh penulis dengan menggunakan ponsel edit VSCO cam

Gurame Bakar – foto oleh penulis dengan menggunakan ponsel edit VSCO cam

Korea BBQ  foto oleh penulis dengan menggunakan ponsel

Korea BBQ foto oleh penulis dengan menggunakan ponsel

Foto makanan itu peraturannya cuman 1 = harus terlihat enak dan bikin ngiler. Namanya konsep pemotretan jangan batasi dirimu dengan peraturan justru membuat karya fotonya jadi terkungkung. Kalau teknis foto ya memang tegas dan jelas peraturannya….kan teknis foto itu matematika tetapi kalo konsep ya ndak toh?

Tips :

  1. Pencahayaan/lighting itu segalanya!
  2. Keep it simple
  3. Pakai/gunakan props/properti yang sederhana
  4. Gunakan sedikit minyak untuk efek glossy (tapi kalo di restoran mungkin coba minta  olive oil)
  5. Masukkan sedikit unsur manusia dan aktifitasnya (ini sebenernya bagian dari konsep)

Berikut beberapa foto contoh dan selamat mencoba! Terima kasih.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Photo by me – OLYMPUS OMD Em10MarkII Zuikolens 45 mm F1.8

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Photo by me – OLYMPUS OMD EM10MarkII Zuiko Lens 45 mm F1.8

 

Ice Thai Tea Photo by @dailyaima Processed with VSCOcam with hb2 preset

Ice Thai Tea Dapoer si Teteh Photo by @dailyaima – Iphone Processed with VSCOcam with hb2 preset

Sirloin Pinchos foto oleh penulis (nah ini contoh dari penggunaan bokeh untuk fokus ke daging yang di colek ke saosnya)

Sirloin Pinchos foto oleh penulis (nah ini contoh dari penggunaan bokeh untuk fokus ke daging yang di colek ke saosnya)

Cheese Cake Photo by Peny Pujiati - Huawei Phone Processed with VSCOcam

Cheese Cake Photo by Peny Pujiati – Huawei Phone Processed with VSCOcam

Steak Photo by Peny Pujiati - Huawei Phone Processed with VSCOcam

Steak Photo by Peny Pujiati – Huawei Phone Processed with VSCOcam

Photo by Peny Pujiati - Huawei Phone Processed with VSCOcam

Photo by Peny Pujiati – Huawei Phone Processed with VSCOcam

Photo by Peny Pujiati - Huawei Phone Processed with VSCOcam

Photo by Peny Pujiati – Huawei Phone Processed with VSCOcam

Photo by @gabynelwan (instagram)

Photo by @gabynelwan (instagram)

Photo by @gabynelwan (instagram)

Photo by @gabynelwan (instagram)

[Travel Diaries] LAS VEGAS : Mencoba Street Photography di Negeri Orang!

Merayakan ulang tahun selalu menyenangkan, tak tekecuali 9 Januari 2014 lalu. Walaupun merayakan di negeri orang, sendirian dan kedinginan (dalam arti yang sesungguhnya – winter),  ulang tahun kali ini terasa tetap special dan menyenangkan. Hanya saja banyak kebingungan dengan aturan waktu antara Indonesia dan Las Vegas. Sementara di Indonesia, ucapan selamat ulang tahun sudah bertubi-tubi tetapi waktu di lokasi saya berada masih 1 hari sebelumnya. Malam ulang tahun saya rayakan dengan berjalan menyusuri pedestrian Las Vegas.

Tenang, tidak seperti bayangan kalian kok. Sepanjang jalan aman-aman saja, sepanjang kalian menyusuri jalan utamanya. Banyak sekali orang berjalan menikmati malam dengan segala pertunjukan gratis dari cafe, restoran hingga hotel dan kasino. Mulai dari pertunjukkan air terjun depan Hotel Bellagio di Las Vegas Blvd hingga pertunjukan api disalah satu hotel yang saya lupa namanya. Pada waktu tertentu, pertunjukan ini akan terus ada bagi mereka yang berjalan kaki. Berjalan kaki pada saat bulan Januari dan musim dingin lumayan agak menyiksa terutama untuk kita yang asalnya tropis sepanjang waktu. Untung sudah melengkapi diri dengan jaket yang ada bulu-bulunya dan sepatu boot selutut. Konsentrasi bisa tetap fokus pada pemandangan….tanpa merasa terlalu kedinginan.

Mereka bilang Las Vegas adalah “Sin City”, jadi untuk melihat “dosa” yang terjadi tentunya malam adalah waktu yang pas. Saya segera menyiapkan baterai kamera ponsel penuh dan kartu memori kosong, agar nantinya bisa menggila tanpa sewot. Kenapa saya memilih S4 Zoom? Karena dia henpon, kecil dan flashnya yang ampuh! YA! MALAM INI SAYA AKAN TURUN KE JALAN UNTUK MENCOBA STREET PHOTO MALAM DENGAN MENGGUNAKAN FLASH! Agak deg-degan sih, soalnya jarang moto ala street trus ditambah itu sudah malam dan tempat yang asing….nekad lahhhh ya! Pasang muka Asia yang polos tanpa dosa….niscaya respon emosi pun akan memudar! HAHAHAHA…..lets do it!

Ekspresi no 2

Ekspresi 3

Processed with VSCOcam with f2 preset

20140110_214753_1

20140109_2144432014-01-09 21.24.55

2014-01-09 23.08.49

Processed with VSCOcam with g3 preset