Catatan #kelasfotografi Pesona Nias

Bermain bersama Iwashere di Nias Selatan sungguh menantang sekaligus menyenangkan. Aku ndak tahu akan seperti apa nanti #kelasfotografi yang akan terjadi. Bahkan sebelum berangkat, aku diberitahu bahwa peserta “takut” karena kesannya serius dan mereka merasa tidak memiliki alat mumpuni. Ketika aku jelaskan bahwa tujuan utama aku dalam setiap sharing adalah “membangunkan” konten. Alat apa pun yang mereka punya tidak akan masalah. 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA          Processed with VSCO with 4 preset

Taken by Windy Ariestanty Processed with VSCO with 4 preset

Saat menulis blog ini aku masih berada di Nias. Seharusnya menemani kak Windy Ariestanty dan Jonathan Thamrin workshop dan pastinya akan keren sekali. Apa boleh dikata, bombardir Whatapps kerjaan bikin aku harus standby di hotel. Setelah semua kerjaan selesai, kok ya jadi nganggur banget. Daripada hanya menatap laut dan pria-pria pembawa papan setrikaan mulai turun ke laut, aku nulis ini aja deh buat kalian. Semoga bermanfaat!

Memotret dengan Ponsel

Tidak perlu malu atau ragu ketika alat yang tersedia hanyalah sebuah ponsel. Justru tugasmu adalah mencari tahu kekurangan dari ponselmu apa? Jika memang terlalu jadul sehingga tidak bisa digunakan dalam memotret keindahan, pemandangan, landscape, gunakan kecerdasan komposisi. Kecerdasan komposisi bisa dipelajari dengan latihan yang rajin.

Processed with VSCO with 10 preset

iPhone 6+ Processed with VSCO with 10 preset

Buat sekedar informasi saja, walaupun ponselnya mahal jika ia tidak bisa bermain dengan komposisi dan angle yang cerdas ya sudah. Mau dikasih kamera apa pun hasilnya ya gitu-gitu aja. Walaupun memang pada kenyataannya kamera yang bukan ponsel bisa mendapatkan beberapa teknis yang ponsel tidak bisa, misalkan pergerakan saat keadaan gelap, foto yang membutuhkan zoom (jarak jauh) dan beberapa teknis lainnya. Ya hadapi kenyataan carilah yang bisa, berhenti mengeluh dan segera bercerita!

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Buat aku yang bekerja memilih foto untuk majalah, akan melihat komposisi dan momen. Tidak semua foto yang ingin diceritakan harus dengan momen yang bergerak cepat? Bisa memotret pasar, potret, dan sebagainya. Pelajari komposisi dasar seperti rule of third, leading line dan sebagainya. Jangan hanya dibaca, praktekin dong. Bagaimana pun, mengatur komposisi adalah masalah membiasakan diri secara bawah sadar.

img_6840.jpg

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 4 preset

Leading line Processed with VSCO with 4 preset

Beberapa contoh komposisi dasar bisa kalian pelajari di sini dan untuk latihan coba keluarkan fitur grid dan cobalah latihan seperti yang dicontohkan di link tadi. Lalu pilih satu foto terbaik dan pisahkan. Selain kalian belajar untuk menggunakan komposisi, kalian juga latihan memilih foto. Harus tega ya sama diri sendiri. Usahakan jangan menyisakan foto yang serupa atau sejenis.

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Pilih penggunaan format vertikal (portrait) dan horisontal (landscape) untuk menyatakan emosi yang ingin ditekankan. Vertikal untuk memberitahu seberapa tinggi sedangkan horisontal untuk seberapa luas. Ambil 1 foto yang sama dengan alternatif 2 format vertikal dan horisontal.

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Gunakan setingan kualitas ukuran paling baik, superfine, large dan sebagainya. Setiap ponsel mempunyai penyebutan ukuran yang berbeda, selalu pilih yang terbaik agar nantinya jika ingin dicetak hasilnya akan lebih baik. Lalu jika ingin mendapatkan hasil lebih close up, lakukan dengan mendekat. Jangan menggunakan zoom pada ponsel, karena itu adalah digital zoom. Bahasa mudahnya itu gambar yang di tarik sehingga membesar, hasilnya akan kurang tajam.

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 4 preset

Aku paling senang bermain dengan cahaya, menggunakan cahaya pada sore hari sering menghasilkan gambar yang menyenangkan. Walaupun sedikit menyiksa modelnya, aku senang menyuruh mereka menghadap ke arah matahari. Senang aja liat hasil akhirnya. Gelap dan terang itu sangat penuh emosi…

 

Seperti cerita di bawah ini, ketika sedang wawancara seorang bapak pemilih rumah di desa Bawomataluo, beliau menyebutkan nama dari alat kukur kelapa (marut). Ketika berusaha menyebutkan ulang, aku masih salah dalam mengejanya. Setelah ketiga kali akhirnya bapak berinisiatif untuk menuliskannya. Mengambil kertas dari laci dan menuliskannya di meja, nampak tulisan asing. Ternyata Nias memiliki cara penulisan sendiri yang berbeda dari bahasa Indonesia. Ini menarik sekali! Lalu aku meminta bapak mengulang pose menulis dan aku mengambil gambar di bawa ini.

Processed with VSCO with 4 preset

Selebihnya kalian bisa membeli asesoris seperti tripod mini untuk kamera ponsel dan alat pendukung lainnya. Banyak hal menarik tentang Indonesia, terutama kampung halaman kalian semua. Misalkan Nias, begitu banyak yang bisa diceritakan namun jika kita browsing di google…sangat sedikit materi yang bisa kita gunakan sebagai petunjuk pendatang/wisatawan. Alangkah menyenangkan jika kalian yang tinggal di lokasi bisa menceritakan halaman belakang rumah kalian dengan bahasa visual kalian.

Bagaimana? Siap bercerita?

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 10 preset

Processed with VSCO with 4 preset

All photos taken with #iPhone and edited VSCOCam

#PesonaNias #Nias #NiasSelatan

Fotografer atau Blogger?

Processed with VSCO with a4 preset

Photo by me with Olympus OMD EM10MarkII Processed with VSCO with a4 preset

Sebuah topik yang menarik, mengingat banyak yang bertanya “identitas: saya, fotografer atau blogger? Agak aneh sih buat saya pertanyaan itu, seharusnya pertanyaannya fotografer atau penulis? Tapi bolehlah kita tulis sedikit pemikiran saya tentang hal ini. Pemikiran yang datang dari pengalaman yang seumur jagung. 

Baca : Tips Fotografi

Fotografi atau Menulis?

Ketika seseorang ingin memulai blog, media sosial atau dunia jurnalistik lantas pertanyaan yang sering muncul, sebagai berikut;

  1. fotografi atau menulis?
  2. Tulisan saya jelek, boleh gak foto aja?
  3. Saya gak suka foto mbak, jadi pengen nulis blognya isi foto dari google aja
  4. Bagaimana bisa kepikiran foto seperti itu mbak?
  5. Ini kalau saya mau bikin konten saya mulai dari mana?
Processed with VSCO with a9 preset

taken by me with SamsungGalaxy s4

Okeh sebelum menjawab satu persatu pertanyaan ini, saya mau curhat sedikit. Jika dipikir-pikir proses awal semua karier dan perjalanan fotografi ini, tidak sedikitpun saya ragu bahwa semua ada hubungannya dengan pengalaman saya di berbagai bidang salah satunya adalah menulis. Pekerjaan utama saya adalah fotografer dan tugas saya adalah menyampaikan komunikasi secara visual.

Visual (komunikasi melalui penglihatan) adalah sebuah rangkaian proses penyampaian informasi atau pesan kepada pihak lain dengan penggunaan media penggambaran yang hanya terbaca oleh indera penglihatan.

Jadi semua ini adalah tentang komunikasi dan komunikasi itu sendiri harus melalui proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya. Kita bisa melakukannya itu dengan menggunakan lambang atau kata-kata, gambar, bilangan, dan sebagainya. Jadi dalam perjalanan fotografi ini, saya beruntung ditempa begitu banyak ilmu. Walau tidak semua ilmu itu tuntas (mana ada sih ilmu yang tuntas) namun gabungan dari semua itu membuat saya bisa membuat semangkuk sop yang berisi aneka informasi, gagasan, emosi, ketrampilan dan sebagainya.

Pelajaran-pelajaran dalam bumbu semangkuk sup adalah pendidikan jurnalistik di Universitas Indonesia, pengalaman asistensi menulis dengan pak Sitor Situmorang, belajar menulis release otomotif selama 2 tahun di sebuah agensi, bekerja sebagai pewarta foto otomotif (kontributor) di Kompas Gramedia, sekolah seni rupa di Sydney dan arsitek di Trisakti serta masih banyak beberapa hal lain. Kini memasuki tahun ke-3 sebagai Editor in Chief Linkers .

Processed with VSCO with a6 preset

taken by me with Olympus OMD EM5 Mark II

Semua pelajaran tentang ide kreatifitas, komunikasi, presentasi, proses berkembang dan membaur dalam mangkok sup. Kembali ke topik pertanyaan awal, berikut adalah jawaban untuk 5 pertanyaan yang paling sering ditanyakan.

  1. fotografi atau menulis? Keduanya
  2. Tulisan saya jelek, boleh gak kalau hanya foto aja? Bebas tapi kalau bisa keduanya pasti lebih keren, sequence berceritamu akan lebih baik.
  3. Saya gak suka foto mbak, jadi pengen nulis saja. Isi foto dari google aja. Bisa aja sih tapi alangkah bagusnya jika ada komunikasi visualnya untuk mempertajam maksud yang ingin kamu sampaikan.
  4. Bagaimana bisa kepikiran foto seperti itu mbak? Baca semangkuk sup di atas. Ini bukan hasil semalam namun proses. Proses saya berpikir pastinya sudah lebih cepat karena sudah terlatih. Prosesnya = latihan.
  5. Kalau saya mau bikin konten, harus mulai dari mana? dari hal yang jelas kamu ketahui dengan pasti. Dari hal tersebut kamu bisa membuka jendela kemana pun. Apapun kontennya, suatu hal yang menarik perhatianmu tidak akan pernah ada habisnya.

Kalau kamu memiliki kesempatan dalam hidup untuk bisa mempelajari hal-hal baru dan pengalaman yang membuat kita berani membuat keputusan ambil! Mana ada pengalaman saya sebagai fotografer sebelumnya atau jadi Editor in Chief sebuah majalah dari perusahaan sebesar Citilink? Ketika saya berani menjawab IYA pada komitmen pekerjaan itu berarti ada tanggung jawab menunggu di ujung jalan.

Kerjakan semuanya dengan rasa sayang (bukan robot) dan cintailah proses! 

Editing adalah pekerjaan yang memberi ilmu begitu banyak karena kita dipaksa membaca dan melihat begitu banyak tulisan dan foto orang. Melelahkan namun memberikan ilmu yang tidak dimiliki orang lain. Belajar editing apapun itu memiliki perspektif yang sangat unik.

Kalau ditanya apakah saya sudah sukses? Bingung jawabnya. Ndak pernah punya maksud mengejar sukses, tujuan akhir selalu ingin semua terselesaikan dan bermanfaat. Jika itu bisa membawa manfaat bagi orang banyak, maka saya bisa lanjutkan hal berikutnya semaksimal mungkin. Tidak penting orang mau anggap saya ini blogger, medsos apapun itu, food & travel photographer…saya tidak akan menyibukkan diri kedalam deskripsi diri. Gak penting! Saya mencintai dunia komunikasi. Selama bisa berkomunikasi dan mengkomunikasikan entah itu visual atau lisan lalu bisa bermanfaat buat orang banyak. Than I am a happy girl. 

screen-shot-2016-11-24-at-6-53-13-pm

Taken by me with Olympus OMD Em5 MarkII

Jakarta 23 November 2016

Food Photography When Travelling

 

aff997a7-1705-422b-86a6-93381442e06f

 

Halo Bandung! I will be sharing about Food Photography when travelling. If you need to upgrade your skill in photography for daily use, I’ll be sharing my experience with you all. Get all the details in this account @indoperspective

#PHOTOMORFOSIS# an Initiative by Perspective present

“Food & Travel Photography” by Marrysa Tunjung Sari @poeticpicture

Mari Bandung, saatnya kita belajar dari dari para professional untuk bisa mendapatkan ilmu. Investasikan waktu kalian pada workshop Food and Travel Photography, Sasha akan berbagi tips dan trik memotret food fotografi dalam travel. Buat kalian para blogger atau pengguna social media yang hobi mengunggah foto makanan yuk ketemuan. Jangan lupa, catat tanggal, segera registrasi workshopnya dan MENANGKAN TIKET CITILINK!

 

Pendaftaran :

Klik link http://bit.ly/1WkLRLf

Akun Instagram @indoperspective

Hubungi (WA) 082114002054

Berlaku untuk semua user kamera digital merek apapun

 

Biaya Pendaftaran : Rp150.000

  • TIKET PP CITILINK
  • SERTIFIKAT, TSHIRT, MERCHANDISE

 

Detail Acara :

MINGGU, 23 OKTOBER 2016

Pukul 09:00 -17:00 WIB

 

WARUNKDAKORA

Jl. Telekomunikasi No 237 Bojongsoang Bandung

 

Supported by :

#warunkdakora #CitilinkInflightMagazine #Linkers

 

Media Partner :

Telkom Hitz

Ardan Radio

Urban Bandung Radio

Zora Radio

Bandung Magazine

Ikom Channel

KOFI

 

#allaboutcommunity #allaboutphotography #LensA