[Travel Diaries] Mujair Dari Danau Tektonik

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

MUJAIR DABUDABU TONDANO

Judulnya lebay banget ya? Tapi emang bener kok, danau Tondano masuk ke dalam kategori danau tektonik. Danau yang terbentuk akibat gerak tektonik lalu menimbulkan cekungan dan kemudian terisi oleh air hujan atau terbendungnya aliran sungai. Lalu apa bedanya mujair yang hidup di danau tektonik dan empang kampung belakang rumah? #JelajahGiziMinahasa membawa aku langsung ke danau Tondano untuk merasakan perbedaan rasa, agar bisa menjawabnya pertanyaan itu sambil mencicipinya.

Baca : Pasar Tomohon, Pasar Ekstrem

Fakta #BaruTahu

Bahwa ikan Mujair itu konon awalnya berasal dari perairan Afrika dan di Indonesia, itu #barutahu. Bayangkan masa sekarang di mana semua orang tahunya mujair itu ikan dan ayahmu kebetulan bernama itu. Pasti terdengar seperti lelucon, padahal dulunya itu adalah nama orang. Pak Mujair menemukan ikan yang nama latinnya Oreochromis mossambicus atau bahasa inggrisnya Mozambique tilapia (susah bingitz) di muara sungai Serang pantai selatan Blitar, Jawa Timur tahun 1939. Untuk menghormati beliau, ikanMozambique tilapia diberi nama ikan Mujair.

Lalu bagaimana si Mozambique tilapia ini bisa sampai ke Blitar dari Afrika? Lewat black hole di dasar sungai? Jeng jengggg….dan memang ini masih misterius sih. Aku coba riset tentang Mozambique tilapia tapi tidak menemukan referensi migrasi yang menjelaskan tentang perjalanan ikan ini (ya kali aja dia kayak salmon bisa air asin dan tawar). Ada sih beberapa data tapi bahasanya ilmiah banget zzzz….

Mujair Danau Gunung

Lalu istimewanya apa sih dengan mujair yang hidup di kolam biasa? Karena di Kintamani, Bangli, salah satu kuliner favorit aku dan andalan warga Bangli adalah mujair  dari danau Batur. Hasil wawancara dengan beberapa orang yang lebih ahli kuliner menyatakan bahwa mujair danau Batur atau yang terkenal dengan nama Mujair Nyatnyat memiliki rasa yang lezat dan tidak bau tanah (ini maksudnya bukan sudah tua dan mau mati ya). Danau Batur sendiri merupakan danau Vulkanik.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

MUJAIR NYATNYAT BANGLI

DCIM100MEDIADJI_0434.JPG

DANAU (VULKANIK) BATUR – DRONE P4 PILOT FAHMI INDRA

Danau vulkanik merupakan danau yang terjadi akibat letusan gunung berapi. Ketika gunung berapi meletus, dan kemudian meletus maka terbentuk kawah yang luas di puncaknya. Ketika kawah tersebut terisi oleh air hujan, maka kawah tersebut akan menjadi danau. Danau sepeti ini banyak kita temui di Indonesia. Contoh danau selain danau Batur adalah  danau kawah gunung Kelud.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

NELAYAN DANAU TONDANO

Istimewanya? Nah karena kita mengikuti #JelajahGizi2016 maka pertanyaan sepele dan kayak tidak penting ini ternyata punya fakta yang menarik. Tidak penting tapi menarik hehehehe…labil ya? Memang ada kontroversi antara ikan nila dan mujaer, kedua ikan ini adalah pembersih alami bahan detritus dan beracun dalam lingkungan air yang mereka tempati. Jadi ikan ini sebenarnya menguntungkan bagi alam karena kemampuannya memurnikan air dan mengurangi limbah oksigen.

Lain halnya jika untuk dikonsumsi, karena ini tidak selalu baik akan tetapi (penting ini) itu terjadi jika ikan dibeli dari tempat yang tercemar. Jika dibelinya dari danau yang lingkungannya sehat seperti danau batur dan danau Tondano akan jadi lain cerita. Menurut sumber (http://www.tipscaramanfaat.com/) Ikan nila dan mujaer juga sangat dihargai karena kualitas nutrisi yang menguntungkan, seperti vitamin, mineral, dan protein . Ikan ini adalah sumber yang baik omega-3, selenium, fosfor, kalium, vitamin B12, niasin(vitamin B -3), vitamin B6, dan asam pantotenat(vitamin B -5).

Bahasa mudahnya ikan ini punya banyak manfaat jika kita mendapatkannya di lingkungan yang bersih. Oleh sebab itu sebuah restoran Manado di Jakarta berani memasang harga Rp150.000 per porsi (satu ekor ikan). Untung saat bersama #JelajahGiziMinahasa bisa menikmati langsung di danau Tondano, wah bisa koprol ke dapur bolak balik nambah dengan harga segitu. Apalagi ditambah bumbu dabudabu khas Minahasa. OMG!

All photo in this Article taken by me with Olympus OMD EM5MarkII & EM10MarkII Zuiko Lens 17 mm F 1.8 and 45 mm F1.8.

*penggunaan foto dalam blog ini harus dengan persetujuan dari pemilik blog.

BIGOLO, PEJANTAN DARI KAMPUNG SEBELAH

Gigolo dan kini ada bigolo? Hahahahaha apa sih itu? #barutahu ada Bigolo. Ternyata itu sebutan canda bagi kaung. Babi jantan yang tugasnya berkeliling desa sebagai pejantan bagi babi-babi betina atau dalam bahasa bali disebut Bangkung. Fakta #barutahu ini saya temui di jalanan kota Bangli beberapawaktu lalu.

Mr Bigolo

Mr Bigolo

Terkejut dengan penglihatan di pinggir jalan, seorang bapak setengah baya berjalan dengan membawa babi jantan berukuran besar. Langsung secepatnya meminta teman untuk menghentikan mobil dan mengejar si bapak. Bapak yang paham bahwa saya ingin memotret, segera menyuruh untuk berlari kedepan dan mengambil gambar dari depan.

“Pak galak ndak?” tanya saya.

“Ndak dek, mau pegang?” ujarnya

Saya sempat pegang kepalanya dan mr Bigolo nampak tidak keberatan dan terus berjalan. Bapak menjelaskan dengan cepat bahwa dia baru saja mengantar Bigolo “bertugas” di kampung sebelah dengan imbalan sekitar 200-300 ribu sekali mengawinkan satu ekor betina. Wah! Sepertinya profesinya bigolo bisa jadi idaman ya buat para pejantan lainnya (ngomongin babi lo yaaaa)….soalnya dengan pekerjaannya ini, bigolo terbebas dari panas arang dan bumbu dapur hahahahahha…..sampai jumpa lagi bigolo!

#barutahu Taken with Olympus Pen EPL8 Zuiko 12 mm F 2.0