[Bersihbersih] Nyinyir Tidak Akan Menyingkirkan Sampah 


Sebenarnya gak terlalu suka posting apa yg sudah aku kerjakan ini namun masalah sampah kudu musti wajib narsis. Gak bisa sok low profile ngumpet-ngumpet karena ini masalah kita bersama sih..

Aku juga ngerti kalian gemes melihat siaran LIVE dan foto-foto kami di sana, namun ada yg kalian harus pahami. Kalian tidak ada di sana untuk merasakan dan bahkan sekedar mencari insight. Jawaban atas pertanyaan kalian semua itu adanya ya di mereka yang setiap hari ada di Istiqlal.

.

Banyak pertanyaan tentang

1. Separah itu?

.

Yap separah itu dan tidak cuman di masjid Istiqlal, ini ada di seluruh Indonesia. Apa yg aku lakukan saat travel (bersih-bersih) kadang males posting karena gak sempet vidioin atau lupa. Istiqlal sengaja aku ekspos terus-terusan karena di sinilah krisis kita terlihat jelas! Krisis moral!

.

Moral? Ya jelas. Nyampah, ngeludah, merokok di tempat ibadah yg dianggap bersih (suci) untuk menghadap Allah. Lagian ada peraturannya, ya kalo gak tahu kan kalian punya hati nurani. Hal yg tidak perlu diingatkan kan?

.

Heran gak sih? Padahal menurut kasat mata semakin banyak (nampaknya) orang religius (agama apapun ini) tapi kok ya semakin banyak sampah? Ini bukan cuman di masjid doang lo ya sekali lagi. Jadi jangan sensi.

.

Yes karena mayoritas ya kita (muslim) jadi keliatan. Bagus dan buruk ya keliatan la wong jumlahnya banyak. Jadi kalo mau keliatan bagus ya perbaiki dari hal kecil, sampah.

.

2. Emang gak ada tempat sampah?

.

ADA! Ya kali ndak ada, makanya datang dan lihat. Masalahnya itu bukan ada atau tidak ada tempat sampah. Udah pernah liat jumlah jamaah yg datang ke Istiqlal? Ribuan. Petugasnya? Ya tentunya ndak sebanyak jamaahnya lah….

.

Sehabis makan, mereka hanya perlu taro kerdus-kerdus bekas makan jadi satu dipojokan. Nah di sini tugas kami sukarelawan, mungutin yang males taro kerdus ke pojokan. Ya gitu deh, yang males banyak 🙄.

.

3. Itu petugas masjid gak ngingetin?

.

Ini yang aku maksud. Memang mudah mengajukan pertanyaan karena kita tidak tahu keadaannya. Cara termudah adalah datang dan berbicara dengan mereka. Cara ini yg belakangan jd rada kondang istilahnya TABAYYUN itu loh. Tapi kalo dalam bahasa sehari-hari aku, insight.

.

Mereka ngingetin terus dan bahkan gemes dan sedih. Banyak off the record yang tidak aku share ke kalian karena tingkat joroknya maksimal. Membutuhkan konteks panjang x lebar utk menjelaskan.

.

Kalian juga harus paham, jamaah Istiqlal bukan hanya orang berpendidikan seperti kalian semua. Mulai dari gelandangan hingga mereka yang datang dengan mobil mewah. Jadi segala idealisme pemikiran kalian ttg sampah harus bisa mencakup aspek ini semua. Sekedar hanya mengingatkan orang secara random itu sama aja menggarami laut. Harus ada metode yg pas, aku pun juga masih mencari.

.

Cara yang sekarang aku lakukan memang terlalu sederhana. Iya aku tahu. Hanya dengan memberi contoh, harapannya 1 orang dari sekian ribu itu bisa berubah dengan melihat kami. Kalau kalian ada ide please do share it with me. Ini masalah kita bersama kok tanpa mengenal agama apa pun itu.

.

.

Yang bukan pertanyaan dan lebih ke nyinyir (standar deh)

1. Semoga ini bukan musiman

2. Kerajinan amet kan udah ada petugasnya

.

jawaban aku buat dua poin ini cuman satu…bodo amet. 

.

Iya emang kerajinan, kalo ndak rajin ngapain bela-belain nembus macet buat ke Istiqlal yg jauh dari rumah cuman buat nyari sampah. Kalian pikir aku nganggur banget? Jadwal aku padat! Tapi ini ibadah.

.

Mau musiman mau engga, kamu ada di mana saat aku lagi di Istiqlal? Nulis status nyinyir di rumah? Hehehehehe….shut up! Sini angkat sampah sama kami dan bikin dirimu berguna. Kalo ndak bisa ndak usah ngemeng. Status kalian ndak bisa bersihin Istiqlal.

.

Ya udah segitu dulu. Semoga ini bisa menjadi jawaban FAQ bagi yang bertanya.

.

salam manis 
Sasha.

Advertisements

[Sasha’s Fav] Roti Selai, Bandung

Processed with VSCO with a6 preset

Kecil dan menggemaskan! Itu kata yang tepat untuk menggambarkan kedai mungil bernama Roti Selai. Walaupun deskripsi aku ini cukup jelas, kalian tidak akan pernah membayangkan betapa kecilnya tempat ini sampai kalian benar-benar ada di sana. Memang dasyat kolaborasi bakers & desain interior.

Processed with VSCO

Pemiliki Roti Selai adalah sepasang suami istri, suami yang memang pembuat roti atau baker sementara istrinya ahli desain interior. Kombinasi keahlian ini menyulap tempat semungil menjadi tempat yang menyenangkan dengan aroma yang menggiurkan.

Processed with VSCO with a6 presetProcessed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a6 preset

Kedai yang hanya muat maksimum 12 orang di bagian luar dan dalamnya memang benar-benar “warung pojok” dalam arti sesungguhnya. Kalian harus bergantian untuk bisa masuk ke dalam ruang bagian dalam. Namun bagian yang paling menyenangkan duduk di dalam adalah wangi roti yang baru saja dipanggang whoaaaa….

Processed with VSCO

Rye Bread Sandwich, merupakan menu sarapan yang terdiri atas telur, roti, tumisan daging dan beberapa sayuran khas Kedai Roti Selai. Disajikan di atas piring cantik membuat selera sarapan dan semangat untuk ritual motret tinggi. Hehehehehe….biar bagaimana pun, memotretlah sebelum makan. ya kaaann….

Meringue Sandwich, menu ini favorit para pelanggan Roti Selai. Agar kalian bisa menikmati kelezatan dari menu sarapan yang satu ini, harus datang lebih pagi. Sudah dipastikan kehabisan kalau datang terlalu siang.

Processed with VSCO with a6 preset

Beef Curry with Onsen Egg and Brown Rice, menu ini sangat cocok bagi yang ingin sarapan dengan makanan berat. Nasi dengan rempah khusus ditambah bumbu kari yang nikmat.

Pada menu ini juga kalian akan mendapatkan telur dengan tingkat kematangan pas dan roti yang akan menambah kelezatan menu tersebut. Menu-menu makanan disini di mulai dari Rp10.000 – Rp50.000. Kedai Roti Selai ini bisa dikunjungi dari pukul 07.30-17.00 WIB. Khusus Hari Jumat, Kedai tutup dan akan buka kembali di keesokan harinya.

 

Roti Selai

Jalan Dago Golf Raya No. 98 Bandung

[All Photo taken by OMD Olympus EM10MarkII]

[Sasha’s Fav] Kedai Teko, Bandung

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kalau ke Bandung dan ndak nyempetin kemari pasti rasanya ada yang kurang. Selalu kangen dengan kedai yang satu ini. Salah satu tempat nyempil di Bandung yang menjadi favorit aku. Jadi Kedai Teko akan menjadi artikel pertama SASHA’S FAVORITE…

Tempatnya sangat tenang menghanyutkan, pohon-pohon tua tinggi menjulang tidak terusik. Secara aku adalah sejenis perempuan pemeluk pohon, tempat seperti ini tentunya jadi tempat ideal banget. Bicara soal usia,  kedai ini bukan kedai baru di Bandung. Usia kedai Teko sudah menginjak 18 tahun.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA

Awal kisahnya diceritakan oleh anak dari pemilik Kedai Teko, awalnya karena kebiasaan sang ibu yang senang menyuguhkan hidangan kepada tamu-tamu arisannya. Lalu ada ide bagaiman jika membuka kedai kecil di rumah saja, ide pun bersambut dan Kedai Teko mulai melayani pelanggan. Namun karena memang hanya senang melayani dan tidak terlalu ingin berjualan, Kedai Teko awalnya hanya buka dari pukul 14.00-16.00 WIB saja.

Saat beliau merasa lelah dan ingin istirahat maka kedai tutup…hehehehehe unik ya. Sembari tertawa Kang Ncis, panggilan akrab Krisna Satmoko, anak dari anak pemilik kedai menjelaskan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kalau sekarang sih kalian tidak perlu cemas karena Oma Tetsi telah konsisten membuka kedainya hingga larut malam. Selasa-Kamis 09.00-22.00 WIB dan Jumat-Minggu 09.00-23.00 WIB. Menu andalan yang menjadi favorit aku adalah poffertjes, kudapan dari Negeri Kincir Angin yang dilumuri gula merah dan gula bubuk. Untuk minuman silahkan pesan Chai Tea yang hangat dan lezat! Wah ini kombinasi yang berbahaya!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Chai tea merupakan teh khas India yang dicampur susu dengan bubuhan kayu manis, cengkeh, dan jahe. Chai tea memang menu andalan dari Kedai Teko. Selain itu tersedia juga menu pasta, ravioli, sandwich, aneka masakan nasi goreng, dan sup. Semua diracik dengan resep rumahan.

Kedai Teko

Jl. Neglasari No. 4, Ciumbuleuit – Bandung

[All Photo taken by OMD Olympus EM10MarkII]