[travel diaries] Pasar Tomohon, Pasar Ekstrem

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sewaktu melihat jadwal jalan #JelajahGiziMinahasa , sempat tertegun sejenak sih. Ada tulisan di situ, pasar tradisional Tomohon. Dari seluruh pasar di Indonesia, ini adalah satu-satunya pasar yang aku hindari. Sebagai penggemar pasar tradisional ini BIG DEAL banget! Ya abis gimana dong? Kalian yang udah kesana atau dengar ceritanya tahu kan mereka jualan segala jenis daging? Bahkan ada istilah semua yang bernafas, bisa dimakan dan berkaki kecuali kaki meja ada di pasar Tomohon. Sebagai penyayang binatang melihat anjing, kucing atau hewan apapun yang kita anggap piaraan dipanggang dan dipotong adalah mimpi buruk. Tapi ini kan harus banget kesana karena komitmen pada acara ini. Akhirnya diputuskan ikut kesana namun menjaga posisi untuk tidak berada di bagian penjual segala rupa daging.

Pasar Tradisional

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sebelum aku cerita tentang pengalaman kesana, berbagi cerita dulu kenapa aku begitu senang berkunjung ke pasar. Buat aku pasar tradisional adalah ruang untuk mempelajari begitu banyak hal, karakter penduduknya, aneka kuliner, jajanan, bahan masak dan ruang untuk bisa mendapatkan informasi. Sebelum mulai berkeliling kota dan menggali informasi tentang apapun, pasar selalu menjadi tujuan pertama petualangan kita.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Informasi tidak terduga bisa datang dari siapapun di sana karena siapapun yang ada di tempat itu akan membeli keperluannya di pasar. Menjelajah informasi di internet masih kalah dari informasi di pasar, serius deh. Oleh karena itu, buat kalian yang ingin menulis dan foto tentang kisah tempat tertentu. Mampirlah ke pasar tradisionalnya. Banyak hal menarik bermula dari pasar. Terutama kalau kalian ingin berlatih foto, pasar tempat yang sangat photogenic.

Kembali ke Tomohon, bis kami akhirnya tiba di pasar Tomohon. Aku mencoba celingukan ke segala arah tidak menemukan tanda-tanda ada anjing atau kucing dalam kandang. Bertanya pada bapak penjaga parkir dan dari penjelasannya pasar Ekstrem berada di sisi lain pasar Tomohon. Jadi aku akan aman-aman saja jika berada di sisi pasar tempat kami turun dari bis.

Baru turun aku sudah tertarik dengan daun-daunan aneh yang diperjualbelikan. Iya I have this weird thing dengan daun-daunan hehehehe…langsung melakukan pendekatan dengan berkenalan pada ibu penjual yang bernama Ibu Juliana. Aku pikir tadinya itu daun pohpohan (nama sundanya) tapi ternyata berbeda dari segi tekstur. Daun ini bernama Leilum, biasanya dalam kuliner Minahasa dia akan menjadi tumisan bersama daging. Iya daging, tikus tepatnya. WAKS!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kuliner tikus ini dinamakan Kawok. Jangan pikir ini tikus yang kita lihat di comberan atau got depan rumah. Kawok adalah tikus hutan ekor putih. Ekornya yang berwarna putih inilah yang membedakan tikus hutan dengan tikus rumahan atau got. Mereka berburu kawok di pohon-pohon besar seperti pohon enau. Orang Minahasa mengolah dagingnya tanpa ekor dengan bumbu racikan batang bawang, kemangi, sereh, cabe, goraka, daun lemon, kunyit, kepala santan dan daun Leilum. Namun namanya menu ya tergantung yang masak dan modifikasi apa yang dia lakukan. Kepala santan itu adalah perasaan santan pertama dari parutan buah kelapa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Selesai bertanya dengan ibu Juliana, berjalanlah aku menuju bagian dalam dari pasar. sepanjang jalan masuk ke pasar, kanan dan kiri aku melihat daun seperti daun keladi diikat. Penasaran lalu pendekatan lagi dengan salah satu penjual. Pas lagi jongkok untuk melihat dari dekat daun yang disenderkan ke dinding, aku melihat potongan singkong gosong di atas piring. ketika bertanya pada ibu penjual yang tidak sempat tanya namanya, WADUH…itu tikus panggang alias Kawok! Argh…aku pikir itu singkong yang baru keluar dari tanah atau gosong. Oh man!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Baiklah sha! Terlanjur terlihat dan akhirnya mengamati para pengunjung pasar. Beberapa ibu-ibu mendekati kawok panggang dan mengangkat bagian ekor yang tersisa untuk menyakinkan entah apa. Dalam beberapa saat kemudian, kawok pun ludes terjual. Wah akan banyak rumah di Tomohon dengan menu Kawok nampaknya malam ini. well…next!

Kembali ke daun yang mirip seperti keladi itu, ternyata namanya Daun Nasi. Sesederhana itu, daun nasi. Gunanya sebagai pembungkus nasi dan kemudian dikukus. Sempat terjadi tebak-tebakan apa jadinya nasi dalam bungkusan daun itu, aku nebak ketupat dia bilang bukan, lontong juga bukan akhirnya si ibu menyarankan aku untuk mencari si Oma. Satu pasar Tomohon hanya ada satu penjual Nasi Daun (dibalik kalo udah ada nasinya). Ya oke deh, keliling pasar cari si oma penjual nasi daun. Bertanya sana kemari sambil memperhatikan jalan, jangan sampai aku nyasar ke bagian anjing dan kucing.

OMA KETEMU! Yap. berkat kegigihan aku bertanya sana sini, penjual sekitar yang aku tanyakan jadi konsentrasi ikut menyarikan sosok oma. Ketika sedang berada di bagian penjual cakalang fufu, seseorang menyentuh pundak aku dan menunjukkan si Oma. Aduh Oma ini modis banget, baju pink dengan topi lebarnya membawa kontener plastik berisi nasi daun. Setelah dikasih tunjuk yang namanya nasi daun, oalaahhh ini kalo di bagian lain dari sulawesi namanya buras. Okey! Oma menawarkan nasi daun seharga Rp2.000 dengan tambahan tumis pakis dan rica. Rasanya? Enakk banget!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di samping mengunjungi semua bagian pasar yang ramah pemandangan hehehehe….pasar Tomohon juga menyediakan aneka jajan pasar.Ada penjual kolembang merah, apang bakar, cakalang asap, roa dan berbagai macam jajan pasar dan kuliner. Kalian sedang berada di Sulawesi, di mana aja di pulau ini semua makananya endeuz surendeuz. Jadi demikianlah pengalaman di pasar Tomohon. Kalian pikir aku akan bahas bahas soal sisi ekstrem pasar ini? Tikus panggang tadi udah cukup ekstrem buat aku hahahahaha. No No No….not in the million years aku akan menyebrang ke sisi sana walaupun itu hanya untuk melihat. Bisa pingsan dan mimpi buruk nanti. Cukup tahu aja bahwa ada selera tradisional yang mengkonsumsi hampir semua jenis hewan. Cukup tahu saja.

All photo in this Article taken by me with Olympus OMD EM5MarkII & EM10MarkII Zuiko Lens 17 mm F 1.8 and 45 mm F1.8.

*penggunaan foto dalam blog ini harus dengan persetujuan dari pemilik blog.

Advertisements

6 thoughts on “[travel diaries] Pasar Tomohon, Pasar Ekstrem

  1. iyoskusuma says:

    Si Oma meuni pinky! Juara! Haha.. Jadi Oma ini keliling ya jualannya? Ga buka lapak? Menarik juga untuk nyobain nasi daunnya Oma. Anyway, rica yang dimakan rica apa? *jeng jeng!* 😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s