Makan Ramen Halal di Jepang

Sulit mencari menu halal di Jepang? Untuk semangkok ramen yang lezat di Jepang saja, bahan baku yang digunakan bisa tidak halal atau bahkan penggunaan alat masak yang bercampur. Standar halal menjadi sulit bagi kaum muslim yang sangat mementingkan hal tersebut. Apalagi di Jepang untuk berkomunikasi selain bahasa Jepang cukup sulit. Lalu bagaimana caranya mencari restoran atau kedai yang menyuguhkan ramen halal di Jepang?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ramen yang berisi rumput laut, bawang, kecambah, bayam, telur rebus dan rebung yang di Jepang disebut Menma.

Naritaya, salah satu kedai di distrik Asakusa, Tokyo menyediakan ramen halal. Kedai yang memang hanya memasak menu berbagai macam ramen juga menyertakan sertifikat halal. Sertifikat yang dikeluarkan oleh Japan Islamic Trust dengan tujuan utama demi kesejahteraan muslim di Jepang dan tentu saja wisatawan muslim yang berkunjung. Apalagi Asakusa adalah distrik yang selalu ramai dengan wisatawan dari berbagai macam belahan dunia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kedai Naritaya berada di dalam pertokoan Jalan Nishisando

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kedai Naritaya

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Chef Thoriq sedang membuat Mazesoba atau Ramen tanpa kuah seharga 700 Yen.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mazesoba – Ramen tanpa kuah, rasanya gurih. Lezat!

Kedai Naritaya buka sejak Januari 2015, tidak perlu cemas tidak membaca tulisan di menu karena menu restoran menggunakan tulisan dalam bahasa inggris dan jepang. Menurut chef Thoriq, sulit untuk menemukan rasa washoku yang original dengan menggunakan bumbu “normal” tetapi akhirnya setelah percobaan berkali-kali mereka menemukan dan mempertahankan rasa originalnya dengan tetap halal. Chef Thoriq yang hari itu bertugas memasak adalah warga Jepang muslim. Thoriq adalah nama muslimnya.

91628346-b5d3-4ea1-850c-6ed9a6b524d0

Screen Shot 2016-03-20 at 7.16.54 PM

Lokasi Naritaya di Google map klik MAP

Sertifikat Halal di Jepang

Sebelum tahun 2014, sangat sulit dan mungkin nyaris tidak mungkin untuk menemukan restoran halal di Jepang. Menurut beberapa sumber media Jepang, pemerintah Jepang menyadari kekurangan ini lalu memutuskan untuk serius dalam menanggapi permasalahan sertifikat halal. Promosi pariwisata yang mempersilahkan seluruh dunia datang untuk mengunjungi Jepang tetapi fasilitas penting seperti informasi dalam bahasa inggris, tidak ada WiFi gratis, makanan halal dan transportasi umum menjadi momok terbesar.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sertifikat Halal di depan pintu Kedai Naritaya

Jepang menyadari dengan cepat lalu segera bebenah infrastruktur yang mendukung pariwisata. Salah satunya adalah Made in Japan Halal Support Committee di bulan Februari 2014. Pemerintah Jepang lalu berusaha belajar untuk memahami tentang kebutuhan para muslim Jepang dan wisatawan muslim yang berkunjung ke Jepang. Bahkan kini kalian yang ingin mengetahui di mana saja letak restoran Halal di Asakusa dan Ueno, Perkumpulan Muslim Taito di Tokyo menerbitkan peta khusus untuk muslim.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

peta untuk wisatawan muslim

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Perhatikan informasi yang berada di bagian belakang peta.

Peta berisi informasi tentang tempat ibadah dan restoran untuk wisatawan muslim. Uniknya tempat-tempat ini diberi bintang berdasarkan ketertarikan bisnis-bisnis unit ini dalam mengakomodir wisatawan muslim. Bintang 3 untuk menu yang seluruhnya halal dan tidak ada minuman alkohol, bintang dua untutk menu makanan halal saja dan bintang satu untuk restoran yang menyediakan menu halal tetapi masih tersedia beberapa menu yang tidak halal.

Jika ingin ke Jepang dan ingin mendapatkan peta silahkan masuk ke www.halalgourmet.jp atau ke laman facebook milik Tokyo’s Taito-ku. Disana kita bisa mendapatkan informasi tentang restoran halal dan tempat ibadah disekitar Tokyo. Jadi tunggu apalagi? Tidak perlu ragukan untuk main ke Jepang? Mungkin ada dari kalian yang bisa menambahkan informasi tentang restoran halal terbaru di seputar Tokyo? Sok atuh informasikan pada kolom komentar.

All photo taken by Marrysa Tunjung Sari with #EM5markII #zuikolens #1240mm F 2.8 and #17mm F 1.8 #olympus_occi_id. 

 

Memotret Java Jazz 2016

Memotret panggung buat aku itu sama seperti memotret balap. Buat kalian yang baru kenalan dengan aku di blog ini, dulu awal karier motret aku adalah sebagai jurnalis kontributor untuk Otomotif Group di Gramedia Kompas yang di Jalan Panjang. Kenapa aku bilang memotret panggung itu sama seperti memotret balap? Iya karena setiap momen yang berjalan itu terkadang tidak seseru fotonya. Moto balap yang jumlahnya sekian lap (putaran) itu bosan kalau tidak ada kejadian seru-seruan (maaf ya) seperti ada yang jatuh, underdog nyalip dan sebagainya. Jadi 1 frame foto itu harus bisa mewakili semangat dari balapan yang mungkin saja hari itu berlangsung biasa-biasa saja.

20160306225403

motret Java Jazz 2011 photo by Remigius Isworo

Begitu juga dengan memotret konser. Iya kalo yang di foto ekspresif. Walaupun yang konser itu group band rock sekali pun kalau si Band tidak “komunikatif” atau cenderung hanya memainkan musik sesuai dengan rekamannya, pasti akan membosankan. Tetapi tantangan sebagai jurnalis yang ditugasin tidak hanya “menonton” kami harus pandai membuat momen yang kalo kalian liat…akan berkomentar “WOW SERU BANGET!”

Screen Shot 2016-03-07 at 3.33.11 PM

Java Jazz 2008-2011

Setelah 5 tahun, akhirnya kemarin datang dan motret lagi. walaupun hanya bisa hadir di malam pertama penyelenggaraan. Java Jazz selalu mempunyai semangat atau aura yang menyenangkan. Malam itu aku datang sudah cukup malam, rangkaian artis yang ingin ditonton pun sudah mulai membuat labil. Ya karena kali ini datang sama mas suami kan…jadi musiknya itu harus kompromi. akhirnya kami sepakat untuk masuk ke arena Level 42. Semangat banget doi, maklum ini hits banget pas jaman dia muda (hihihihihi).

Pas sampai dalam kami berdua agak sedikit bosan, mas Mark King sebagai vokalis tidak begitu pandai berkomunikasi dengan penonton. Iya pada disko semua sih tapi tetep aja, ada momen “nguap” di beberapa set lagu. Untuk motret pun aku standby kamera kecil aku #olympusPEN #EPL7 dengan lensa #Zuiko 75 mm F 1.8 nyala terus. Karena pertunjukan mereka cukup monoton dan ketebak, aku menunggu drummer Level 42 yang sekarang, Pete Ray Biggin untuk pamer kemampuan drumnya. Yes! Lighting yang ciamik dan momen yang pas setelah pegel nungguin ….berhasil dapat foto dia sedang pamer ketiak hihihihi….tapi 1 frame ini mewakili dinamisnya Level 42 yang malam itu bisa dibilang cukup flat.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pete Ray Biggin, Level 42 (Olympus EPL7 Lens 75 mm F 1.8)

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pete Ray Biggin, Level42 (Olympus EPL7 Lens 75 mm F 1.8)

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Mark King, Level42 (Olympus EPL7 Lens 75 mm F 1.8)

Kalau posting seperti ini pasti akan banyak pertanyaan mengenai setingan kamera. Setingan kamera itu tidak bisa sama untuk semua kondisi. Setiap kondisi punya perbedaan cahaya dan belum lagi elemen seperti warna, material, cuaca dan sebagainya. Tetapi saya selalu menjaga speed untuk foto panggung yang pecicilan di atas minimal 1/100 detik. Sebenarnya pun 1/100 detik juga tidak akan jadi begitu freeze kalo akting si pementas terlalu banyak lompat-lompat. Tetapi kembali lagi itu tergantung dari kondisi pencahayaan saat memotret. Oleh karena itu pilihan lensa bukaan besar selalu menjadi prioritas daftar lensa wajib beli. Untuk foto-foto di atas aku share data exif-nya dibawah ini.

Screen Shot 2016-03-07 at 3.44.59 PM

1/230 F 3,5 ISO 1600 Olympus EPL7 75 mm F 1.8

Setelah Level 42, aku mencoba melihat Yura Yunita (ini pun baru tau pas di Java Jazz – maaf ya beneran baru tau), Nor Salleh (penyanyi dari Malaysia), Group Ska Jepang dan Glenn. Tetapi untuk 2 penampil terakhir itu, aku ndak motret. PENUH BANGET! Asli! Banyak banget terutama yang Glenn. Waktu nonton Yura, act panggungnya ok lah tetapi karena musiknya ndak gitu akrab setelah 4 lagu kami pindah ke panggung lain. Akhirnya kami berdua stay di panggung Nor Salleh. Penyanyi Malaysia ini menyenangkan dalam mengajak penonton untuk diam dan menyaksikan dia. Padahal itu udah pukul 01.00 dini hari. Siapa dia? Silahkan kalian browsing aja sih….kalau aku dan mas suami begitu denger musiknya dan gaya dia berkomunikasi yang kocak kami memutuskan untuk nonton dia sampai selesai.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Musician – Yura Yunita band (OLYMPUS DIGITAL CAMERA)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Yura Yunita (OLYMPUS DIGITAL CAMERA)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Nor Salleh (OLYMPUS DIGITAL CAMERA)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Nor Salleh (OLYMPUS DIGITAL CAMERA)

 

Ya udah deh demikian pengalaman di Java Jazz 2016, terima kasih kepada majalah  #linkers #Citlink membuat aku datang dan nonton lagi Java Jazz setelah sekian lama gak hadir. What a great short night! Kalian punya foto #javajazz2016 ? Share dong linknya di komentar tulisan ini. Ya ya ya….