[Travel Diaries] Kabupaten Sumbawa Barat #KSBTrip

Sumbawa atau Sumba? Pertanyaan itu pasti akan dipertanyakan lebih dulu setiap kali kita menyebutkan “mau ke Sumbawa”. Ternyata pengetahuan geografis kita tentang Indonesia perlu kita segarkan lagi. Untungnya hidup di jaman yang serba mudah, ada mesin pencari informasi di internet bahkan dengan mudah kita bisa mengakses peta melalui google map. Jadi sebelum kita salah tujuan atau kurang persiapan sebelum melakukan perjalanan, ada baiknya kita melakukan sedikit riset.

Nah itu dari Kiri ke kanan ya, Bali, Lombok, Sumbawa dan dibawah kanan itu baru ada pulau Sumba

Nah itu dari Kiri ke kanan ya, Bali, Lombok, Sumbawa dan dibawah kanan itu baru ada pulau Sumba

Perjalanan kali ini Linkers mencoba untuk melompat sedikit ke pulau sebelah Lombok, pulau Sumbawa. Sumbawa dan Sumba adalah dua pulau yang berbeda, jarak antara kedua pulau cukup jauh. Lalu pertanyaan berikutnya mudahkah untuk mencapai pulau Sumbawa? Cukup mudah dan tidak terlalu jauh dari pulau Lombok, hanya sekitar satu jam perjalanan dengan menggunakan kapal cepat atau 1,5 jam dengan kapal Ferry. Ketika kita melakukan, saran Linkers jangan tertidur di dalam kapal, pemandangan kanan dan kiri perjalanan begitu indah dan menyegarkan.

Screen Shot 2015-01-20 at 10.08.21 AM

Deket kan dari pulau Lombok ke NTB, cuman 1 jam aja kok

Ok! Peta pulaunya sudah jelas, perjalanan ferry-nya juga sudah, sekarang tinggal memperkenalkan teman jalannya. #KSBTrip atau kepanjangan dari Kabupaten Sumbawa Barat Trip, disini aku jalan bareng Nico, Tika, Ivan, Imad, Aline dan Naimah. Jadi teman-teman kegiatan foto narsis, selfie atau wefie itu penting lo! Itu adalah bagian dari catatan perjalanan kalian, eh ini serius ya. Jadi jangan lupa foto narsis disetiap tempat yang kalian kunjungi untuk memberi kelengkapan dari setiap catatan perjalanan kalian.

Kiri ke kanan : Nico, Tika, Ivan, Naimah, Imad dan Aline

Kiri ke kanan : Nico, Tika, Ivan, Naimah, Imad dan Aline

Karena aku lebih banyak motret daripada dipotret....jadi bolehlah kolase kusus narsis foto yang nulis.

Karena aku lebih banyak motret daripada dipotret….jadi bolehlah kolase kusus narsis foto yang nulis. Walaupun dari belakang atau ketutupan kamera… :)))

Ada apa saja di pulau Sumbawa? Pulau Sumbawa konon memiliki pantai yang indah dan berpasir putih bersih dan halus. Ternyata tidak hanya itu, pantai Maluk di Kabupaten Sumbawa Barat, terkenal dengan lokasi untuk berselancar yang masuk dalam kategori “wajib” dikunjungi oleh para penggemar selancar. Suasana pedesaan yang tenang, pantai pasir putih yang bersih, padang rumput luas dengan kuda liar, batu-batu karst, pohon khas Indonesia Timur dan jangan lewatkan ayam Taliwang dari desa Taliwang yang jauh lebih menyengat pedasnya dari Taliwang Lombok.

Selain pantai, gunung Tambora yang indah pun kini mulai menjadi incaran para penggemar travel. Foto-foto di media sosial seperti Instagram mulai bertaburan foto “selfie” di gunung Tambora. pemandangannya sungguh luar biasa indahnya. Sedikit informasi untuk Linkers bahwa tanggal 10 April 2015 akan ada Festival Tambora Menyapa Dunia, beragam pertunjukkan budaya akan disajikan dalam rangka mengenang 200 tahun letusan gunung Tambora. Masyarakat kabupaten Dompu, tempat gunung Tambora berada sangat antusias menyambut acara ini, bagaimana tidak ditargetkan 2 juta orang akan hadir dan bergabung dalam acara tersebut.

Pemandang seperti ini sepanjang perjalan pelabuhan benete menuju Newmont townsite Batu Hijau (tempat kami menginap)

Pemandang seperti ini sepanjang perjalan pelabuhan Benete menuju Newmont townsite Batu Hijau (tempat kami menginap)

SAMSUNG CSC SAMSUNG CSC   SAMSUNG CSC

Walaupun untuk infrastruktur pariwisata, pulau Sumbawa, khususnya, Sumbawa Barat masih sepi? Karena Kabupaten Sumbawa Barat merupakan daerah pemekaran dari pulau Sumbawa. KSB singkatan dari Kabupaten Sumbawa Barat baru menjadi kabupaten tahun 2003. Perkembangan perekonomian yang tumbuh dengan baik membuat Sumbawa Barat menjadi provinsi tersendiri. Jika kita menyeberang dari pulau Lombok, kita akan mendarat di Sumbawa bagian Barat terlebih dahulu lalu baru masuk ke Bima. Jangan kuatir bagi Citilinkers yang ingin ke pulau Sumbawa, ada beberapa hotel yang bisa menjadi akomodasi yang nyaman. Silahkan untuk melakukan riset tentang festival “Gunung Tambora Menyapa Dunia” dari sana Citilinkers akan mendapatkan informasi lengkap.

SAMSUNG CSC

Ayam Taliwang ini berbahaya!

Kalau ditanya soal makanan di pulau Sumbawa, khususnya Sumbawa Barat, persiapkan diri Citilinkers dengan pedas menyengat penuh bumbu. Ayam Taliwang yang sempat Linkers coba adalah masakan rumahan. Salah satu dari pemandu wisata kami mempunyai koneksi keluarga di Taliwang yang bisa didatangi dan ikut makan malam bersama mereka. Hanya ada 2 masakan malam itu, ayam Taliwang dan sup ayam. Keduanya sangat pedas menyegarkan dan herannya untuk makanan sepedas itu semua bumbu masih sangat terasa dengan kata lain Lezat luar biasa!

Saya sungguh sangat kagum dengan cara orang Sumbawa menikmati masakan mereka. Bayangkan masakan yang sudah pedas ditambah ke cobek berisi sambal yang pedasnya lebih-lebih! Ini seperti dua kali pedas dan wajah mereka pun seperti tidak merasa kepedasan. Sementara saya sudah mandi keringat dan berderai air mata kepedasan.

Wajah=wajah yang numpang makan di rumah orang :D

Wajah=wajah yang numpang makan di rumah orang 😀

Selain makanan super pedas ayam Taliwang, cemilan atau kudapan yang ada di desa Taliwang, Sumbawa Barat mirip sekali dengan kudapan khas Makassar. Tanya punya tanya memang banyak sekali suku Bugis yang pindah ke Sumbawa Barat dan mereka masih memasak  tradisi dapur mereka bahkan hingga nama kudapannya masih sama. Dua kudapan yang saya coba gogos (semacam lemper) dan barongko (makanan khas Bugis-Makassar yang terbuat dari pisang yang dihaluskan).

Ibu-ibu Taliwang lagi membuat gogos untuk dijual di pasar.

Ibu-ibu Taliwang lagi membuat gogos untuk dijual di pasar.

Gogos! Nyam nyam

Gogos! Nyam nyam

Nah kalo ini susu kerbau (mirip kembang tahu gitu rasanya) Namanya jajanan Palopo (susu kerbau pakai kinca gula merah)

Nah kalo ini susu kerbau (mirip kembang tahu gitu rasanya) Namanya jajanan Palopo (susu kerbau pakai kinca gula merah)

Jualan Palopo ke pasar. Liat ituuuu berapa tingkat tampahnya! Sangar si ibu!

Jualan Palopo ke pasar. Liat ituuuu berapa tingkat tampahnya! Sangar si ibu!

Pundut (isinya pisang)

Pundut (isinya pisang)

Lepat

Lepat

Ya udah deh ya Sha! Setelah makanan mari kita membahas soal tidur #eh … cape banget nih! Setelah seharian jalan-jalan dan makan (nyolot banget :D)…ok ok hari pertama selesai. Lalu besoknya setelah perut kosong dan tenaga siap untuk berkeliling Sumbawa Barat lagi, selanjutnya kami diajak untuk melihat lahan reklamasi. Mencotek tulisan Tika soalnya pas dijelasin aku lagi sibuk melongo liat traktor yang persis kayak di film Avatar. Asli itu truk gede banget.

Lahan yang sedang di Reklamasi

Lahan yang sedang di Reklamasi

Proses menumpuk tanah sehingga mencapai kemiringan dan kepadatan yang ideal.

Proses menumpuk tanah sehingga mencapai kemiringan dan kepadatan yang ideal.

Reklamasi ini adalah proses menanami kembali permukaan tanah yang sudah selesai dieksplorasi dengan jenis-jenis tumbuhan yang sedekat mungkin dengan ekosistem aslinya, sekitar 80% masih sama, dan luas lahan yang direklamasi adalah 20-30 ha pertahun. Rupanya cukup sulit juga prosesnya, karena harus mengembalikan posisi bukit-bukitnya dengan kemiringan tertentu, lalu menebar puluhan ribu benih tanaman, disiram pakai kendaraan semacam mobil pemadam kebakaran itu, dan permukaan tanahnya mesti ditutup coconet untuk mencegah erosi sambil menunggu tanamannya tumbuh besar.

Melepaskan serabut kelapa untuk kemudian dipintal.

Melepaskan serabut kelapa untuk kemudian dipintal.

Nah, apakah coconet itu? Bagi saya ini pengetahuan baru. Coconet adalah net dari coconut. Iya, jaring yang dibuat dari sabut kelapa. Sabut kelapa dipintal menjadi tali panjang, lalu dianyam menjadi jaring. Karena organik, setelah dipasang jaring ini tak perlu dilepas lagi, alias dibiarkan saja hingga rusak sendiri dan melebur dengan tanah seiring dengan waktu. Pembuatan coconet ini dikerjakan oleh kumpulan ibu-ibu di sebuah desa tak jauh dari Batu Hijau sebagai mata pencaharian mereka.

Memintal serabut kelapa menjadi tali.

Memintal serabut kelapa menjadi tali.

SAMSUNG CSC

Kelihatannya gampang tapi percayalah, Ivan dan Tika sudah mencoba dan mereka kusut hihihihihihi

Tali yang sudah jadi kemudian dijalin menjadi Canonet.

Tali yang sudah jadi kemudian dijalin menjadi Canonet.

Maaf ya Tik, aku nyontek. Hihihihihi……tapi fotonya ibu-ibu lagi ngerjain Canonet gak nyontek dong. Canonet ini sebenarnya menarik juga ya kalau dijadikan kerajinan tangan semacam tas atau apa gitu. Nah ide tuh! Ok next! Main air! Yeay!

Pantai Maluk, Sumbawa Barat

Pantai Maluk, Sumbawa Barat

Siap-siap mau snorkling...hadeh itu ceria amet ketemu laut

Siap-siap mau snorkling…hadeh itu ceria amet ketemu laut

Processed with VSCOcam with a6 preset

Foto snorklingnya ndak ada…kita semua nyebur hihihihi….ini foto setelahnya.

Jadi tunggu apalagi? Ayo kita rasakan sedikit sensasi berpetualang ke pulau seberang indah dan eksotis, tidak kalah dengan saudaranya pulau Lombok. Keduanya berbagi sejarah dan banyak hal termasuk pemandangan luar biasa yang masih alami.

Gadget 6! The new superhero in town

Gadget 6! The new superhero in town

di depan ban tractor raksasa

di depan ban traktor raksasa

Pulang dulu!

Pulang dulu!

Uhuk! hihihihi....narsis di dalam Speed boat :D

Uhuk! hihihihi….narsis di dalam Speed boat 😀

[Travel Diaries] Semarang

SAMSUNG CSC Perjalanan kali ini berkesan sekali karena untuk pertama kalinya saya mencoba terbang ke Semarang melalui bandara Halim Perdana Kusuma. Ruang tunggu sangat nyaman, pendingin ruangan yang dingin dan tidak terlalu padat dengan tumpukan penumpang. Perjalanan 45 menit ke Semarang akan terbayar dengan berbagai kuliner khas Semarang dan kenangan akan Semarang tempo dulu. Ini adalah catatan harian perjalanan melancong 3 hari ke Semarang.

Gereja Blendhuk

Gereja Blendug

Gereja Blendug

Berangkat dari Jakarta dengan pesawat Citilink pukul 09.55 lalu tiba di Semarang sekitar pukul 10.40 WIB, perjalanan pertama adalah Gereja Blenduk. Bangunan Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda tahun 1753 masih berdiri gagah dan terawat. Nama Blendug atau yang sering dilafazkan menjadi mblendug memiliki arti melengkung atau menonjol. Bangunan Gereja Blendug ini cukup impresif, menilik cara arsitektur Belanda membangun memang sangat mengaggumkan. Ketebalan dinding, pintu kayu hingga desain langit-langit yang terlihat kokoh. Setelah berfoto dan membayangkan Semarang tua jaman dulu, kita bisa menikmati makan siang sate dan gulai kambing di depan Gereja Blenduk. Untuk detail tentang restauran dan menunya, silahkan buka halaman peta kuliner.

Klenteng Tay Kak Sie

SAMSUNG CSC Beberapa ahli fengshui yang dipimpin oleh Khouw Ping dan beberapa saudagar tionghoa memutuskan untuk membangun tempat ibadah. Setelah dipilih lokasi dan segala perhitungan fenshui, ditemukan sebuah areal tanah luas ditepi Kali Semarang yang kala itu masih berupa kebun lombok. Patung para dewa dan dewi yang berada di Klenteng tersebut didatangkan langsung dari negeri China. SAMSUNG CSC Keberadaan klenteng Tay Kak Sie diatas kebun lombok, akhirnya membuat klenteng tersebut juga dikenal sebagai klenteng Gang Lombok. Keberadaannya membuat suasana disekitarnya menjadi hidup dan ramai. Kali Semarang yang kala itu masih lebar dan dalam dapat dilalui oleh perahu dan tongkang, hilir mudik dari laut hingga kedalam kota, membuat perdagangan disitu menjadi semakin ramai dan maju. Tahun 1772, setahun semenjak mulai dibangun, klenteng itu telah berdiri dengan megah dan kokoh, Tay Kak Sie namanya, artinya Kuil Kesadaran.

Lawang Sewu

Lawang Sewu

Lawang Sewu

Selanjutnya mari kita melakukan perjalanan waktu ke tahun 1904 menuju gedung Lawang Sewu yang memiliki reputasi seram dari sejarah perjalanannya. Seperti namanya, Lawang Sewu yang dalam bahasa jawa berarti pintu seribu dikarenakan memiliki pintu yang sangat banyak. Walaupun pada kenyataannya Lawang Sewu atau Nederland-Indische Spoorweg Maatschappij tidak persis memiliki 1000 pintu, ada yang menyebutkan angka 429 hingga angka 982 pintu. SAMSUNG CSC Penyesuaian nama Lawang Sewu ini memang untuk mempermudah pengucapan orang jawa masa itu. Lawang Sewu dibuka sejak pukul 09.00 hingga 22.00 malam, tetapi waktu Maghrib ditutup selama 1 jam, pukul 18.00 – 19.00. Karcis harga tanda masuk masih relatif murah Rp10.000 dan jika ingin menggunakan jasa tour guide bisa menambah Rp30.000 hingga selesai. Penggunaan jasa panduan lebih menarik karena kita bisa mengetahui berbagai kisah misteri dibalik gedung yang hingga kini masih dianggap angker. Setelah setelah mengelilingi Lawang Sewu, nikmati suasana sore nuansa kolonial hingga saat makan malam di Toko Oen. Rawa Pening SAMSUNG CSC Tidak perlu mempersiapkan obat sakit kepala, karena Rawa Pening tidak akan membuat pusing kepala justru akan dibuat terpesona akan keindahan dan udara segar dari Rawa Pening. Sebelum itu sedikit saran untuk berangkat awal, sekitar pukul 5:30 pagi agar bisa menikmati kesegaran udara Rawa Pening dengan lebih tenang. Rawa Pening terletak 45 menit perjalanan roda empat keluar sedikit dari kota Semarang, tepatnya Kabupaten Ambarawa. SAMSUNG CSC Sebelum berangkat jangan lupa bawa serta jaket atau selendang, karena Ambarawa terletak agak tinggi dengan udara sejuk berangin. Untuk menuju ke Ambarawa bisa menggunakan mobil sewaan sekitar Rp350.000 atau angkutan kota dua kali ganti. Teman-teman yang menggunakan mobil sewaan bisa mengambil jalur tol, perjalanan Semarang Kota – Rawa Pening hanya sekitar 45 – 1 jam saja tergantung keadaan lalu lintas.

SAMSUNG CSC SAMSUNG CSCSaya sangat merekomendasi Rawa Pening sebagai tujuan wisata bersama anak, keamanan berperahu motor terjamin dengan jaket pelampung yang tersedia hingga bisa menikmati tambak ikan dan suasana rawa bersih dengan tenang. Untuk anak-anak ada beberapa wahana bermain seperti sepeda kayuh yang berbentuk mobil-mobilan dan memancing. Pemandangan gunung Merbabu, Sindoro dan Sumbing saat pagi sungguh menyegarkan. Apalagi jika perjalanan ke Semarang di waktu yang tepat saat menjelang panen padi. Kita bisa berfoto bersama keluarga diantara padi yang menguning.

Gua Maria Karep SAMSUNG CSC Untuk yang beragama Nasrani bisa mampir mengunjungi Gua Maria Karep Ambarawa untuk kunjungan wisata relijius. Gua Maria Karep dibangun pada tahun 1954 sebagai wujud kerinduan umat Paroki Santo Yusuf Ambarawa untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Untuk Teman-teman yang dari Rawa Pening ingin langsung menikmati makan siang bisa mengunjungi Pecel terkenal dari Ambarawa, sego Pecel Bu Kami. Jika sempat melakukan riset wisata kuliner, pecel ini selalu mencul sebagai rekomendasi. Cerita detil kami kupas langsung di artikel Peta Kuliner.

Museum Kereta Ambarawa SAMSUNG CSC SAMSUNG CSCSAMSUNG CSC   Setelah makan siang sego pecel yang menggugah selera, tujuan berikutnya adalah menikmati Ambarawa tempo dulu dengan mengunjungi Museum Kereta Ambarawa. Hanya saja saat mengunjungi museum ini, Saya tidak bisa merasakan sensasi masa lalu dengan menumpangi kereta api tenaga uap, karena museum sedang dalam tahap renovasi. Untuk bisa mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa, terlebih dahulu harus mengunjungi kantor Kereta Api Indonesia untuk meminta ijin kunjungan. Sedikit merepotkan karena pembatasan pengunjung dikarenakan renovasi tersebut.

Candi Gedung Songo SAMSUNG CSC   SAMSUNG CSC SAMSUNG CSC Candi Hindu yang dibangun di lereng Gunung ungaran, memiliki pemandangan yang menakjubkan. Hanya saja untuk kunjungan ini lebih baik ada pertimbangan usia, karena perjalanannya yang menanjak dan cukup melelahkan. Jika ada dana lebih, kita bisa menyewa kuda untuk menghemat tenaga menuju ke candi terakhir pada puncak. Biaya sewa kuda tergantung dari lokasi yang ingin kita capai, harga sewa kuda dimulai dari Rp25.000 hingga perjalanan penuh keseluruh lokasi Rp70.000. Sementara biaya masuk ke lokasi Gedong Songo Rp7.500 pada saat hari biasa sedangkan pada hari libur Rp10.000. Untuk biaya mandi air panas yang tersedia di kolam bikinan, bisa membayar cukup Rp5.000 saja. SAMSUNG CSC SAMSUNG CSC Saran untuk yang ingin mengunjungi hingga puncak situs agar membawa air putih atau jika terlalu memberatkan bisa membeli pada pedagang atau warung yang tersedia di lokasi paling atas. Jangan lupa untuk membawa sampah ke bawah atau membuang pada tempat sampah yang disediakan. Bagi yang ingin menikmati udara segar dengan berjalan santai selain jaket atau selendang, usahakan untuk menggunakan sepatu sport atau sendal gunung yang nyaman untuk menanjak. Jalan menuju ke situs-situs Gedong Songo sudah sangat baik tetapi jalan yang panjang dan menanjak kadang bisa membuat kaki lecet. SAMSUNG CSC SAMSUNG CSC SAMSUNG CSC Klenteng Sam Po Kong

Hari ketiga atau hari terakhir berada di Semarang akan diisi dengan kunjungan ke tempat ibadah dan ziarah juga merupakan tempat wisata dikenal juga dengan sebutan Gedong Batu. Ada yang mengatakan nama ini dipakai karena asal mula tempat ini adalah sebuah gua batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Tetapi ada sebagian orang yang mengatakan bahwa sebenarnya asal kata yang benar adalah Kedong Batu, alias tumpukan batu-batu alam yang digunakan untuk membendung aliran sungai. Setelah menikmati Klenteng Sam Po Kong saatnya untuk berbelanja oleh-oleh khas Semarang, simak artikel tentang oleh-oleh khas Semarang.

 ***