Mengapa kita senang memotret?

Tidak terasa waktu berjalan dari pertama kali memegang kamera ketika era film. Masih teringat jelas ketika keluarga hendak piknik, tempat yang pertama kali dikunjungi adalah toko film. Membeli stok film tentunya masa itu jauh lebih mudah, bahkan di warung pinggir jalan turut menjual film. Masa itu, saya bukan fotografer yang tertarik akan hal bersifat agak nyeni, lebih sebagai fotografer keluarga.

Hingga kini seluruh foto masih disimpan rapih oleh ibu. Tapi ya memang semua foto adalah foto pose didepan landmark yang kita kunjungi. Pose standard, satu keluarga berjejer, format lansekap, semua bilang cis dan saling berangkulan. Masa itu, kasih tanda pis atau metal tidak termasuk dalam pilihan berpose. Kini kalau berpikir akan pertanyaan sederhana, mengapa saya senang memotret? Jawaban pertama yang keluar dari kepala adalah supaya bisa mengingat! Dulu waktu kecil di Makassar, kami sekeluarga sering mengunjungi Toraja, tapi jika sekarang berusaha mengingat seperti apa Toraja. Sungguh tidak ada pecahan gambar sekecil-kecilnya tentang Toraja tersimpan di ingatan. Parah!

Menjadi fotografer membuat saya  mengingat akan semua peristiwa dan lokasi yang terjadi dalam hidup. Menyesal dulu belum segetol ini waktu anak lanang semata wayang lahir. Wah, kalau saat itu sudah memotret tentunya sibuk narsis sendiran dan moto proses demi proses kelahirannya sembari meringis kesakitan. Kembali ke pertanyaan “Mengapa kamu senang memotret?” Komentar yang merespon pertanyaan ini ramai banget! Ada yang serius, puitis hingga OOT :D. Tapi ini indahnya kan? Berikut akan saya tampilkan screen capture komentar-komentar dari kalian semua. Mungkin dengan tulisan ini, ada semacam “cling” dalam pencari-tahuan Why do I love photography? bagi yang sedang mencari-tahu.

Screen Shot 2013-08-28 at 8.10.45 PM Screen Shot 2013-08-28 at 8.13.28 PM Screen Shot 2013-08-28 at 8.13.39 PM  Screen Shot 2013-08-28 at 8.14.18 PM Screen Shot 2013-08-28 at 8.14.25 PM

Screen Shot 2013-08-28 at 8.15.41 PM

Screen Shot 2013-08-28 at 8.18.52 PM

Screen Shot 2013-08-28 at 8.17.51 PM

Screen Shot 2013-08-28 at 8.17.40 PM

Screen Shot 2013-08-28 at 8.17.29 PM

Screen Shot 2013-08-28 at 8.16.43 PM

Screen Shot 2013-08-28 at 8.16.34 PM

Screen Shot 2013-08-28 at 8.16.27 PMScreen Shot 2013-08-28 at 8.18.52 PM 

Screen Shot 2013-08-28 at 8.55.12 PM

Screen Shot 2013-08-28 at 8.51.36 PM  Screen Shot 2013-08-28 at 8.13.03 PM  Screen Shot 2013-08-28 at 8.16.54 PM Screen Shot 2013-08-28 at 8.18.35 PM Screen Shot 2013-08-28 at 8.18.42 PM   Screen Shot 2013-08-28 at 9.30.52 PM Screen Shot 2013-08-28 at 9.30.31 PMScreen Shot 2013-08-28 at 9.29.03 PM

Advertisements

Pulau Pramuka : “Jauh” tapi dekat dari Jakarta

Catatan 17 Agustus 2013

Bosan dan penat suasana Jakarta? Ke Ancol kok kayaknya masih terasa ada di Jakarta banget, apalagi kalo sudah liat antrian macet didalam Ancolnya. Berhubung akhir bulan ini akan travel  ke Lombok dan gak mungkin juga kalau gak diving, diputuskan untuk pemanasan ke pulau Seribu. 

Menuju Pulau Pramuka [Photo taken with Samsung Galaxy S4]

Menuju Pulau Pramuka [Photo taken with Samsung Galaxy S4]

Sudah berkali-kali dengar tentang pulau Pramuka, salah satu pulau yang punya paket wisata terjangkau. Banyak hotel dan home stay murah dan bersih sebagai pilihan untuk menginap. Cuman dulu dengarnya, pulau ini kotor, penuh bulu babi dan sampah buangan dari penghuni pulau. Jadinya setiap kali mau kesana kok kayaknya merasa “rugi”. Aku mau ketempat yang gak terlalu jauh tapinya “jauh” dari Jakarta. Ternyata sampai disana, pulau Pramuka tidak seburuk yang aku dengar “katanya”, ditambah rejeki cuaca yang sempurna! 

Upacara Bendera di lapangan Pulau Pramuka.[Photo taken with Samsung Galaxy S4]

Upacara Bendera di lapangan Pulau Pramuka.[Photo taken with Samsung Galaxy S4]

Paket untuk pendatang seperti kita bermacam-macam, ada yang berkisar dari harga 300 ribu – 1,6 juta rupiah. Untuk diving memang lebih mahal dari yang hanya ingin snorkeling atau keciplak kecipluk dilaut. Tapi untuk apapun yang kalian inginkan, pulau Pramuka meyenangkan untuk menikmati suasana “jauh” yang dekat dari Jakarta. Aku nginep di hotel Dermaga, bagus deh tempatnya. Bersih, pakai AC, kamar luas dan gak jauh dari pantai. Kalau kalian mau bawa anak extra bed bisa jadi pilihan untuk yang booking 1 kamar.

2013-08-17 18.31.52 2013-08-17 18.32.12

Saatnya untuk siap-siap menyelami lautan biru. Sebelum persiapan, kita semua harus mempersiapkan diri dengan baik. Salah satunya adalah perut dipastikan tidak kosong, terisi dengan baik dan nyaman. Setelah perut terisi, saatnya untuk membereskan alat-alat selam danhal paling nyebelin buat diver yang hampir sekian bulan belum nyemplung adalah memakai wetsuit! Susahhhhhh gilaaaa! Untuk peristiwa ini semua, aku menyalahkan lebaran dan nastar! Terkutuk kamu nastar! Segala kerenyahan dan kenanasan yang manis dan bikin nagih itu.

Disambut indomih telor, walaupun ini bisa aja supermie, sarimie atau mie mie yang lain [Photo taken with Samsung Galaxy S4]

Disambut indomih telor, walaupun ini bisa aja supermie, sarimie atau mie mie yang lain [Photo taken with Samsung Galaxy S4]

Itu yang paling belakang Instrukturku Ebram dan best buddy dari SMA, Lieke. [Photo taken with Samsung Galaxy S4]

Persiapan mengguyur diri, supaya wetsuit muat. Itu yang paling belakang Instrukturku Ebram dan best buddy dari SMA, Lieke. [Photo taken with Samsung Galaxy S4]

Mempersiapkan alat masing-masing.[Taken with Samsung Galaxy S4]

Mempersiapkan alat masing-masing.[Taken with Samsung Galaxy S4]

Semangat! Sebelum menyelam pertama. [Photo taken with Samsung Galaxy S4]

Semangat! Sebelum menyelam pertama. [Photo taken with Samsung Galaxy S4]

Lieke lagi mencoba dual shot S4 [Photo taken with Samsung Galaxy S4]

Lieke lagi mencoba dual shot S4. Memotret sekaligus kamera depan dan belakang. [Photo taken with Samsung Galaxy S4]

Dive buddy dan dive master, om Irwan.

Dive buddy dan dive master, om Irwan [photo taken me]

ini akuuuuuu!

ini akuuuuuu! [photo taken by Om Irwan – Dive Master]

Sejenis Nemo dengan strip putih diatas. lucuuuu....

Sejenis Nemo dengan strip putih diatas. lucuuuu….

Setelah diving pertama, saatnya makan siang! Yieehaaa…ini nih yang paling ditunggu. Nasi kotak sudah siap dan nahkoda kapal mengarahkan kapal kayu yang kami tumpangi ini menuju pulau Semak Daun. Pulau kecil tidak berpenghuni ini memang sepertinya menjadi tempat untuk mereka yang membuka tenda dan istirahat. Banyak sekali group pendatang yang melakukan aktifitas bersama, mulai dari snorkling, buka tenda, istirahat dan seperti group kami makan siang nasi kotak. Setelah makan nasi kotak, saatnya untuk bermain dan foto-foto. Membawa casing underwater buat smartphone S4 menjadi momen yang seru! Kita bermain air tanpa rasa takut dan langsung sharing entah ke path, Facebook, whatapps atau twitter. 

Bayangan semangat. Model kacamata : Ajeng. [Photo taken with Samsung Galaxy S4]

Dermaga pulau Semak Daun. Model kacamata : Ajeng. [Photo taken with Samsung Galaxy S4]

Merdekaaa! Levitasi ceritanya hehehehe [Taken with Samsung Galaxy S4 - Waterproof W01 Dicapac]

Merdekaaa! Levitasi ceritanya hehehehe [Taken with Samsung Galaxy S4 – Waterproof W01 Dicapac]

Bermain di Pulau Semak Daun [Taken with Samsung Galaxy S4 - Waterproof W01 Dicapac]

Bermain di Pulau Semak Daun [Taken with Samsung Galaxy S4 – Waterproof W01 Dicapac]

Bermain di Pulau Semak Daun [Taken with Samsung Galaxy S4 - Waterproof W01 Dicapac]

Bermain di Pulau Semak Daun [Taken with Samsung Galaxy S4 – Waterproof W01 Dicapac]

Bermain di Pulau Semak Daun [Taken with Samsung Galaxy S4 - Waterproof W01 Dicapac]

Bermain di Pulau Semak Daun [Taken with Samsung Galaxy S4 – Waterproof W01 Dicapac]

Semangat bener lempar air ke muka aku hahaha....Bermain di Pulau Semak Daun [Taken with Samsung Galaxy S4 - Waterproof W01 Dicapac]

Semangat bener lempar air ke muka aku hahaha….Bermain di Pulau Semak Daun [Taken with Samsung Galaxy S4 – Waterproof W01 Dicapac]

Setelah menyelam di dua spot yang berbeda, saatnya untuk nongrong dan menikmati laut dari permukaan. Aku baru tau ternyata ada cafe diseberang pulau Pramuka, namanya cafe Nusa Karamba. Cafe ini terkenal dengan Bandeng asap bekunya, tidak perlu kuatir tidak membawa cash karena cafe ini menerima pembayaran via debit BCA. Keren! Sambil memesan es kelapa muda dan makan pisang bakar, kami menikmati sunset. Suasana begini yang bikin kangen, awalaupun “cuman” pulau Seribu doang. Aku suka nuansa “jauh” dari Jakarta ini! Suka sekali! Oh ya, buat kalian yang akan datang kesana, aku sarankan untuk membawa kantong sampah sendiri. Buang sampah kalian sesampainya di Jakarta. Karena sedih juga sih kalo mengingat sistem sampah kita didarat aja belum baik apalagi yang diantar pulau. Beberapa diving spot aku menemukan sampah didasar laut. Tolong jaga ya laut dan wisata terdekat dari Jakarta ini. Cuman ini yang kita punya dan masih bagus.

Dive Master dan dive buddies di Cafe Karamba Nusa. [Photo taken with Samsung NX 300 - Lens 10 mm]

Dive Master dan dive buddies di Cafe Karamba Nusa. [Photo taken with Samsung NX 300 – Lens 10 mm]

Cafe Karamba Nusa. [Photo taken with Samsung NX 300 - Lens 10 mm]

Cafe Karamba Nusa. [Photo taken with Samsung NX 300 – Lens 10 mm]

We are family  [Photo taken with Samsung NX 300 - Lens 10 mm]

We are family [Photo taken with Samsung NX 300 – Lens 10 mm]

Dive Master dan dive buddies di Cafe Karamba Nusa. [Photo taken with Samsung NX 300 - Lens 10 mm]

Dive Master dan dive buddies di Cafe Karamba Nusa. Biru kaann langitnyaaa! [Photo taken with Samsung NX 300 – Lens 10 mm]

Setelah 5 diving, 2 snorkling, berkali-kali nyemil kemudian, sudah waktunya untuk check out dan kembali ke Jakarta. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 14:15 WIB, gelombang diprediksi akan tinggi, jadi semua group diingatkan untuk segera menuju kapal. Bertemu dengan teman-teman baru selama perjalanan singkat ini terasa begitu menyenangkan. Kami berbagi momen spesial didalam air dan didarat. Terima kasih Whale Dive Centre baik itu instruktur dan para Dive Masternya, untuk pengalaman singkat menyenangkan.

My best buddy since high school, Lieke  [Photo taken with Samsung NX 300 - Lens 10 mm]

Going home. My best buddy since high school, Lieke [Photo taken with Samsung NX 300 – Lens 10 mm]

Powered by

Samsung Smart Camera

Keteb: Merbabu, Merapi, Sundoro dan Sumbing

Kabut Lereng Merbabu - Samsung NX 20 + 50 200 mm

Kabut Lereng Merbabu – Samsung NX 20 + 50 200 mm

Ingin menuliskan selengkap-lengkapnya tentang perasaan saat ada disana, tapi sudah sekian kali tulisan ini aku hapus. Apa yang ingin aku sampaikan tentang mereka berempat? Harus mulai darimana? Cuaca yang sedemikian cerah hingga mata bisa memandang sejau-jauhnya batas horison? Atau sinar matahari yang menerobos disela-sela pepohonan dan kabut yang berangsur menghilang? Tempat apa ini? Memandang Merbabu, Merapi, Sundoro dan Sumbing berbarengan sehingga membuat bimbang, mau memotret kekanan dulu atau kekiri? Yang pasti aku bersyukur atas rejeki yang diberikan saat kunjungan perdana ke Desa Keteb, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.

Panorama NX 20 - Samsung Lens 18 55 mm

Sundoro & Sumbing Panorama NX 20 – Samsung Lens 18 55 mm

Selamat pagi Keteb - NX 20 + 12 24 mm

Selamat pagi Keteb – NX 20 + 12 24 mm

 

Suasana seperti ini malah tidak terlalu mengundang diriku ingin terlalu banyak memotret. Aku ingin duduk disalah satu warung, memandang bayangan miring dari matahari dibalik Merbabu hingga hilang tegak lurus. Pemandangan yang menurut temanku langka, karena sudah beberapa hari sebelumnya hujan tidak kunjung berhenti. Beberapa teman malah terlihat tiduran disalah satu warung dan menikmati udara bersih diketinggian 1200 meter diatas permukaan laut. Keteb Pass, tempat yang tepat untuk memandang keindahan gunung-gunung ini. Datang pagi untuk merasakan yang aku rasakan saat itu.

Merapi - Samsung NX 20 + 12 24 mm

Merapi – Samsung NX 20 + 12 24 mm

Merapi - Samsung NX 20 + 12 24 mm

Merapi “Si Putri Malu”  – Samsung NX 20 + 12 24 mm

Shine - Samsung NX 20 + 12 24 mm

Shine – Samsung NX 20 + 12 24 mm

Samsung Smart Camera