Bromo “Dalam Pelukan Bintang”

Bromo

For English Version click : http://wp.me/p3Rcl9-2

PERTEMUAN KEDUA 

Bagaimana wajahnya kini? Apa rasanya berdiri ditengah gurun dengan menatap milyaran bintang yang seakan disebar secara serampangan? Semoga Bromo dan aku sepakat bahwa pertemuan kami nanti bisa membawa kembali kenangan 25 tahun yang lampau.

Itu hanya sebagian dari beberapa pertanyaan kegelisahan sepanjang perjalanan menuju Bromo. Melihat postingan teman-teman tentang Bromo dimulai dari padang pasir yang tidak lain adalah debu vulkanik, pemandangan milyaran bintang yang seakan tersebar, hingga ekspresi dari para penunggang kudanya. Setelah sekian lama tertunda, akhirnya! Perjalanan bersama group fotografi, Premium Mentor Series (PMS)dengan tajuk perjalanan “Bromo, The Sky Full of Stars” menjadi sebuah pilihan yang tepat.

Memilih Kamera Sahabat Perjalanan

Perjalanan yang sangat menantang, ini pertama kalinya aku akan memotret bintang! Kamera adalah sahabat, karena itu pilihan untuk perjalanan ini menjadi penting. Aku ingin melakukan perjalanan senyaman mungkin dengan membawa keperluan dengan efektif. Untuk perjalanan ringan dan berkualitas, pilihan tas kamera yang baik dengan isi efektif terpilih. Demikian pula dengan kamera, pilihan kamera dalam perjalanan kali ini adalah mirrorless Smart Camera Samsung NX 20. Kamera dengan kemampuan DSLR tapi dengan bobot yang ringan. Dilengkapi 1 lensa wide Samsung 16 mm, 1 lensa macro 60 mm 2.8 dan lensa 85 mm F 1.4, tripod yang kokoh dan ballhead.  Ketiga lensa dan kamera sangat ringkas untuk masuk kedalam tas kamera ukuran sedang dan tidak terasa berat. Beberapa alat pembersih lensa dan lap untuk embun saat memotret malam dan blower untuk debu. Tidak lupa juga membekali diri dengan windbreaker (Jaket tebal), sarung tangan, topi dan kacamata hitam (untuk debu vulkanik).

Pertemuan Kedua

Setelah mendarat di Surabaya, kami pun melalui tranportasi darat menuju Bromo. Menempuh jalan darat (+/-) 3 jam  (dihitung padat lalu lintas ketika melewati Porong) kami pun tiba. Pilihan penginapan yang tepat menghadap kearah kawah. Udara segar sejuk dan segelas kopi susu panas pun menyambut. Menyeruput kopi pun harus segera, udara Bromo sanggup membuat kopi panas sekejab menjadi dingin. Suasana tiba di Bromo pada hari biasa sungguh nikmat, tidak terlalu banyak pengunjung. Aku pun bisa menikmati pemandangan diiringi dengan lagu dari The Cinematic Orchestra, To Build a Home, terasa penuh ketenangan. Perlahan kabut bergerak menutup pemandangan ke gunung batok. Kami pun dipersilahkan masuk kedalam cafe untuk menerima materi tentang Astro dari mentor PMS, Harlim Lim.

Bintang Gemintang

Dari jendela café hotel perlahan cahaya menghilang dan pekat malam mulai menyelimuti Bromo. Satu persatu kami dipersilahkan keluar dan memilih posisi untuk mengabadikan bintang gemintang yang luar biasa. Jika harus menuliskan semua yang terlihat malam itu, sangat sulit rasanya.  Mungkin benar sebuah kata dalam fotografi yang menyatakan A Picture worth a thousand words. Hanya satu kalimat yang bisa mewakili rasanya, seperti dalam pelukan bintang.

Foto ini diambil hanya beberapa langkah dari hotel tempat kami menginap. NX 20 Samsung Lens 16 mm

Foto ini diambil hanya beberapa langkah dari hotel tempat kami menginap. NX 20 Samsung Lens 16 mm

Milky Way - atau oleh Presiden Soekarno diberi nama Galaksi Bimasakti. NX 20 Samsung Lens 16 mm

Milky Way – atau oleh Presiden Soekarno diberi nama Galaksi Bimasakti. NX 20 Samsung Lens 16 mm

Dalam Pelukan Bintang

Hari pertama begitu “Overwhelmed”  bagi seseorang yang merindukan bintang dilangit. Jakarta sudah begitu terang hingga sulit untuk menemukan bintang. Hari kedua, Tuhan masih memberkati hari aku dan teman-teman, cuaca pun kian mendukung apapun yang ingin kami nikmati malam itu. Dengan menyewa ojek dari para penungga kuda, saya dan bli Komang (salah satu rekan dari Balikpapan yang ikut rombongan) dibawa mendekati pura Hindhu suku Tengger yang persis berada disebelah kawah. Saya ingat kala itu malam pukul 23.00 WIB malam sepanjang perjalanan, perasaan aneka rupa bergelayut. Ada perasaan kagum, terpesona sekaligus takut. Karena berada ditengah kawah walaupun malam, aku berasa sekali sangat kecil! Sepanjang perjalanan aku tidak berhenti memandang kearah langit. Berkali-kali mengucapkan terima kasih kepadaNYA, diberi cuaca yang bersih dan langit yang nampak sempurna lebih dari sejuta kata penyair terkenal sekalipun.

Menyenangkan jika sahabat pilihan ke Bromo, Samsung NX 20,  menjadi pilihan yang tepat. Kami berdua menikmati malam dan pelukan bintang. Tidak terlalu berlebihan, kami serasa dalam pelukan bintang. Langit terlihat melengkung dengan kelap kelip milyaran cahaya! Memotret bintang dalam keadaan kegelapan yang indah seperti anugrah yang tidak terbatas. Hanya ada beberapa cahaya yang hadir, seperti api unggun para muda-mudi yang bertenda dipadang gurun dan kendaraan yang melintas kawah.

Pemandangan di pintu gerbang pura suku Tengger. NX 20 Samsung Lens 16 mm

Pemandangan di pintu gerbang pura suku Tengger. NX 20 Samsung Lens 16 mm

Galaksi Bimasakti...dan ini hanya satu dari entah milyaran galaksi. Bahkan ini hanya satu sisi dari 1 galaksi. NX 20 Samsung Lens 16 mm

Galaksi Bimasakti…dan ini hanya satu dari entah milyaran galaksi. Bahkan ini hanya satu sisi dari 1 galaksi. NX 20 Samsung Lens 16 mm

Mungkin saatnya diam dan menikmati setiap menit bersama para bintang dan pulang membawa oleh-oleh foto untuk diceritakan. Kepada mereka yang belum pernah menyaksikan keindahan malam Bromo beserta bintang dan jajaran bintang dalam sabuk Bimasakti. Semua foto keindahan yang ditangkap oleh sahabat kecil saya NX 20 beserta lensa 16 mm- pancake. Oh ya, apakah aku sudah cerita bahwa saat itu aku melihat hampir 20 bintang jatuh? 🙂

Pukul 3 pagi waktu Bromo, bulan pun terbit. NX 20 Samsung Lens 16 mm

Pukul 3 pagi waktu Bromo, bulan pun terbit. NX 20 Samsung Lens 16 mm

Samsung Smart Camera

Advertisements

10 thoughts on “Bromo “Dalam Pelukan Bintang”

  1. pepy amalia says:

    Halo mbak, kamera mirrorless selain Smart Camera Samsung NX 20 yang bisa digunakan untuk memotret bintang apa ya mbak?

    btw nice blog article mbak, it means a lot. mau ke Bromo juga soalnya. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s